RADAR JOGJA – Petani melon di Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, kembali menuntut ganti rugi atas dampak pembangunan kereta bandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA). Hal itu karena ganti rugi yang sudah diberikan dirasa belum cukup menutup kerugian yang dialami petani. Dari 42 petak terdampak, hanya sembilan petak yang diakui ganti ruginya oleh pelaksana proyek.

Salah seorang perwakilan petani, Beri Putra mengungkapkan, polemik antara petani dengan pihak pembangun jalur kereta bandara berawal dari jebolnya tanggul Sungai Carik, 27 Oktober 2020. Hal itu mengakibatkan lahan pertanian melon sebanyak 42 petak milik para petani terendam saat musim hujan. Diduga jebolnya tanggul penahan air sungai itu disebabkan kurang telitinya pelaksana proyek dalam menentukan tinggi tanggul dengan jalur rel kereta.

Dalam pertemuan antara petani dengan pelaksana proyek Jumat (29/1) lalu, Beri menyatakan pihaknya masih belum menemukan titik terang terhadap ganti rugi keseluruhan lahan terdampak. Ia mengatakan pelaksanaa proyek hanya mengakui sembilan petak lahan untuk diberikan ganti rugi.

Padahal dalam pertemuan itu pihaknya sudah menyodorkan bukti berupa foto dan video terendamnya lahan dengan dilengkapi informasi meta data. Dari kejadian itu total kerugian yang harus ditelan para petani disebut mencapai Rp 2 miliar. Ia menyebut penghitungan ganti rugi sembilan petak lahan hanya sekitar Rp 200 juta.

“Tidak ada titik terang bagi kami, padahal sudah jelas-jelas lahan yang kebanjiran diakibatkan karena proyek kereta bandara. Namun yang disalahkan selalu akibat cuaca buruk dan sebagainya,” ujar Beri usai pertemuan dengan pelaksana proyek.

Dalam proyek pembangunan kereta bandara ini ada dua pelaksana proyek yang melakukan kerja sama operasional (KSO). Yakni PT Calista Perkasa Mulia dengan PT Mitra Sinergi Visitama.

Humas PT Calista Perkasa Mulia KSO Agung Nugroho menyampaikan, pihaknya sudah bertanggung jawab untuk mengganti sembilan petak lahan yang terdampak. Ia pun mengakui penyebab terendamnya sembilan petak lahan itu dikarenakan kelalaian dalam pelaksanaan proyek jalur kereta bandara.
Meskipun demikian, untuk 33 petak sisanya ia mengaku tidak bisa melakukan ganti rugi. Sebab, ada penyebab lain selain pembangunan proyek kereta bandara yang membuat lahan-lahan tersebut terendam.

“Memang kami ada sedikit kesalahan, namun tidak semua lahan terendam merupakan tanggung jawab kami. Yang jelas kami akan bertanggung jawab semampu kami, bukan berupa ganti rugi namun lebih tepatnya tali asih,” terang Agung. (inu/laz)

Kulonprogo