RADAR JOGJA – Pada medio 2020 Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogjakarta melepas liarkan 20 satwa, mulai dari jenis primata, burung hingga reptil. Seluruhnya merupakan satwa kategori dilindungi dan hasil sitaan dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jogjakarta.

Manajer Konservasi WRC Jogjakarta Reza Dwi Kurniawan menjelaskan, satwa-satwa tersebut dilepas liarkan di habitat alaminya. Seperti pelepasan buaya di daerah Way Kambas Lampung. Adapula burung jenis merak dan elang di Taman Nasional Baluran Jawa Timur.

“Walau dalam kondisi pandemi Covid-19 tapi kami tetap komitmen konservasi tetap harus jalan. Tahun 2020 kami berhasil melepaskan 20 satwa ke habitat alaminya. Pastinya jauh dari pemukiman warga maupun kawasan industri perkebunan,” jelasnya ditemui di WRC Kecamatan Pengasih Kulonprogo, Senin (1/2).

Pelepasliaran satwa tak semudah membuka kandang. Satwa-satwa harus menjalani proses rehabilitasi. Terlebih satwa-satwa ini sebelumnya telah mengalami domestikisasi secara paksa. Berupa memelihara satwa liar di lingkungan manusia.

Reza menjabarkan tak semua satwa bisa dilepasliarkan, karena ada beberapa kondisi yang tak memungkinkan. Mulai dari terlalu lama hidup di lingkungan manusia hingga kecacatan fisik satwa.

“Ada yang hidupnya sudah sangat bergantung pada manusia, lalu adapula yang trauma bahkan cacat. Kondisi seperti ini, satwa tidak bisa bertahan di alam liar, kalau dilepas, sama saja membunuh mereka,” katanya.

Reza menambahkan,ada beberapa kondisi satwa yang tak bisa dikembalikan ke habitat alami. Seperti dua ekor elang yang mengalami cacat fisik. Bahkan salah satunya harus didulang saat pemberian pakan. Ini karena elang tersebut mengalami kebutaan.

Lalu untuk jenis primata ada yang masuk lanjut usia dan terlalu lama di kandang  Seperti orangutan, siamang hingga owa. Beberapa diantara juga mengalami kecacatan fisik.

“Setiap satwa datang dengan kondisi yang berbeda-beda. Proses rehabilitasi juga tak bisa sebentar, bisa tahunan bahkan puluhan tahun agar naluri liarnya muncul,” tambahnya.

Kasus penyitaan maupun penyerahan satwa liar selalu ada setiap tahunnya. Ada catatan unik untuk kasus penyerahan satwa liar. Rata-rata pemilik lama sudah tidak bisa merawat. Hingga akhirnya diserahkan kepada instansi terkait.

Domestikisasi satwa liar, sangatlah tidak tepat. Terlebih jika niat untuk melihara hanya sebatas menjadikan hewan peliharaan. Sifat liar menurutnya harus tetap dijaga. Belum lagi penyesuaian fisik dan kebiasaan satwa saat dipaksa menjadi hewan peliharaan.

“Ada orang yang memelihara waktu masih kecil karena dianggap masih lucu. Saat satwa sudah besar, otomatis makannya semakin banyak, akhirnya susah merawatnya. Akhirnya dikasih ke kami, ya kami terima saja,”katanya. (dwi/sky)

Kulonprogo