RADAR JOGJA – Keberadaan Wild life Recsue Centre (WRC) di Pengasih Kulonprogo serasa di ujung tanduk. Kondisi ini mulai terlihat sejak awal 2021,penyebabnya adalah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang berkepanjangan. Kondisi ini turut berdampak pada pembiayaan operasional,baik untuk pembelian pakan hewan maupun operasional staf didalamnya.

Awalnya keberadaan vaksin Covid-19 diharapkan menjadi angin segar. Agar aktivitas kembali berjalan normal. Sayangnya hingga saat ini aktivitas manusia tetap dibatasi.

“Kami (WRC) hidupnya dari crowdfunding (penggalangan dana) dan sebagainya. Setelah vaksin harapan kami membaik, ternyata imigrasi 2021 tetap tutup. Itu membuat kami kritis di ujung tanduk,” jelas Manajer Konservasi WRC Jogjakarta Reza Dwi Kurniawan, Senin (1/2).

Organisasi niralaba  yang berdiri 2003 ini memang mengandalkan donasi. Baik untuk pembelian pakan hewan maupun biaya operasional. Berbagai program yang tersusun tak berjalan selama pandemi Covid-19.

Reza menambahkan,selain bantuan dari pihak luar, adapula program internal. Berupa kunjungan langsung ke WRC. Sayangnya program ini harus ditangguhkan sementara waktu. Penyebabnya tak sejalan dengan protokol kesehatan Covid-19.

“Tahun lalu kami dapat bantuan dari BKSDA, ini menjadi angin segar dan bisa bertahan hingga akhir 2020. Walaupun tetap tidak cukup untuk biaya operasional bulanan yang mencapai Rp 100 juta sebulan,” tambahnya.

Jajarannya terus menekan biaya operasional,khususnya kepada para tenaga dan staf di WRC. Berupa pemotongan upah kerja hingga 50 persen. Keputusan ini berlaku untuk seluruh kalangan di WRC, mulai dari manajer hingga petugas lapangan.

“Sebenarnya kami bimbang, kewajiban kami menyelamatkan satwa liar tapi juga tidak boleh melupakan orang yang merawat mereka. Tetap berusaha cash flow jangan sampai berhenti,” ujarnya.

Kebijakan ini terpaksa ditempuh agar penyediaan pakan di WRC tetap bisa berjalan. Mereka sepakat pakan satwa dalam konservasi tak boleh berkurang. Sehingga para staf memilih untuk mengalah.

“Jadi setelah diskusi dengan teman-teman di yayasan kami sepakat untuk mengurangi salary (gaji) sampai 50 persen. Tapi tidak mengurangi kaidah konservasi. Bagaimanapun kodisinya satwa adalah yang utama,” katanya.

Organisasi niralaba ini berdiri di lahan seluas 14 ribu hektar. Terbagi dalam beberapa kandang, tergantung jenis satwa. Seperti kandang primata, reptil, burung hingga beruang.

Terdata saat ini WRC merawat 152 satwa dilindungi. Mulai dari primata jenis orangutan Kalimantan, Owa, beruk dan kera ekor panjang. Adapula beruang madu, binturung, elang, kakaktua, buaya dan burung Kasuari.

“Kasus terburuk (finansial), kami akan melapor ke BKSDA atau ke Kementerian (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Kami kembalikan ke pemerintah, tapi sebelumnya kami tetap berusaha gali dana dulu,” ujarnya. (dwi/sky)

Kulonprogo