RADAR JOGJA – Dampak pelaksanaan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) juga dirasakan produsen telur ayam ras di kabupaten Kulonprogo. Harga jual telur mengalami pemerosotan. Kondisi tersebut diperparah dengan biaya operasional yang terus naik.

Hal itulah yang kini dirasakan Muslih,35 peternak ayam di Padukuhan Sumurmuling, Kalurahan Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo. Ia mengungkapkan bahwa untuk saat ini harga telur ditingkat peternak mengalami penurunan yang cukup drastis. Adapun sebabnya karena turunnya permintaan akibat kebijakan PTKM.

Muslih menyatakan, untuk saat ini harga telur dikalangan peternak terjun bebas pada harga Rp 18.000, dimana harga sebelumnya berkisar Rp 23.000 – Rp 25.000 per kilogramnya. Kondisi tersebut membuatnya cukup merugi.

Terlebih, lanjut Muslih, untuk saat ini juga diperparah dengan harga pakan yang mengalami kenaikan cukup besar, yakni sebesar Rp 50.000 atau Rp 1.000 perkilogramnya. Sehingga hasil keuntungan dari penjualan telur tidak dapat menutup biaya operasional peternakan, salah satunya pakan untuk ayam.

Dengan merosotnya harga telur di kalangan peternak ini, Muslih khawatir kondisi tersebut akan berlangsung lama dan dampat berdampak buruk bagi usahanya. Untuk itu, ia berharap agar kondisi bisa kembali normal seperti semula.”Kondisi seperti ini sudah kami alami semenjak penerapan PTKM atau awal tahun ini. Dimana pada bulan Desember harga telur nmasih normal yaitu Rp.23.000,” terang Muslih saat ditemui kemarin (28/1).

Terpisah, salah satu tengkulak telur di kapanewon Lendah, Priyadi mengungkapkan bahwa permintaan telur ayam ras untuk saat ini memang tengah mengalami penurunan cukup drastis. Salah satu penyebabnya, menurut Priyadi karena kebijakan PTKM. Ia menyebut penurunan bisa mencapai 40 persen.”Kalau biasanya pedagang itu ambilnya 1 ton, sekarang paling cuma enam kwintal-an. Sekitar itu,” ujar pria 34 tahun itu. (inu/pra)

Kulonprogo