RADAR JOGJA – Selama sepuluh hari pelaksanaan pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat (PTKM), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kulonprogo menegur 74 tempat usaha. Adapun pelanggaran yang dilakukan kebanyakan melewati jam malam dan mengisi kapasitas tempat usaha yang sudah ditentukan.

Kepala Satpol PP Kulonprogo, Sumiran menyatakan bahwa ke-74 tempat usaha yang ditegur banyak diantaranya merupakan usaha toko waralaba serta kuliner. Ia menyampaikan adapun peraturan yang dilanggar para pelaku usaha kebanyakan pada aturan jam malam, melewati pukul 19.00.

Selain itu, Satpol PP juga menerima laporan bahwa beberapa pelaku usaha tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) yakni dengan mengisi kapasitas usaha lebih dari 25 persen.

Sumiran menyatakan, untuk saat ini teguran yang diberikan baru secara lisan. Namun, apabila para pelaku usaha masih melanggar peraturan selama PTKM, pihaknya tak segan memberi teguran berupa surat peringatan hingga penutupan sementara usaha. “Saat ini teguran kamin sampai kepada waralaba, termasuk warung kopi yang berada di sepanjang perempatan Nanggulan ke barat,” ujar Sumiran saat dihubungi, Rabu (20/1).

Sebelum adanya penindakan, lanjut Sumiran, Satpol PP Kulonprogo sudah memberikan sosialisasi terkait beberapa aturan yang berlaku selama PTKM. Sehingga diharapkan masyarakat bisa patuh terhadap aturan tersebut hingga berakhirnya masa PTKM pada 25 Januari mendatang.

Kemudian pemantauannya terhadap aktivitas masyarakat, Sumiran mengungkapkan bahwa mayoritas masyarakat Kulonprogo sudah tertib dalam penerapan prokes. Meskipun demikian, bukan berarti Satpol PP tidak menemukan pelanggaran. ”Untuk kesadaran prokes di masyarakat pada masa PTKM ini sudah tinggi, namun itu terkait dengan pemakaian masker. Kalau di pasar memang susah menghindari kerumunan karena lokasinya yang sempit,” terangnya.

Terpisah, pemilik usaha kuliner Geblek Pari, Mericia Putri menyatakan bahwa penerapan PTKM cukup berdampak bagi pendapatan usahanya. Sebab, dengan kebijakan yang berlaku mengurangi kapasitas jumlah pengunjung sebelum penerapan PTKM. Meskipun demikian, ia mengaku tetap patuh kebijakan yang berlaku. ”Saat ini kami mengikuti imbauan saja, memang semuanya (kebijakan PTKM) seperti pedang bermata dua. Di satu sisi tentang kesehatan, sisi lainnya tentang ekonomi. Namun kami biarkan berjalan mengalir saja,” terang Putri. (inu/bah)

Kulonprogo