RADAR JOGJA – Lahan pertanian di Kulonprogo terus terjadi penyusutan seiring berkembangnya pembangunan. Dalam tiga tahun terakhir sudah terjadi pengalihan lahan pertanian seluas 76 hektar.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Aris Nugroho menyampaikan bahwa pengalihan lahan pertanian terbanyak digunakan untuk kepentingan umum. Yakni, untuk pembangunan Sekolah Vokasi UGM seluas 60 hektar dan Jogja Agro Technopark (JATP) yang diketahui memiliki luas 5 hektar.

”Alih fungsi lahan sawah selama 3 tahun terakhir seluas 76 hektar. Terbanyak adalah untuk kepentingan umum seluas 65 hektar, terdiri vokasi UGM 60 ha dan agrotehnopark 5 hektar,” terang Aris saat dihubungi, Selasa (29/12).

Menyikapi terus terjadi penyusutan lahan sawah ini, Aris menyatakan bahwa pihaknya juga melakukan upaya pencetakan lahan sawah baru. Hal itu sebagai upaya agar kecukupan pangan di Kulonprogo tetap terpenuhi meski pembangunan terus terjadi.

Dikatakan Aris, sejak tahun 2015 lalu luas lahan sawah yang terealisasi dari program tersebut diklaim sudah mencapai 205 hektar. Saat ini total keseluruhan sawah di Kulonprogo sendiri tercatat ada 11.047 hektar. “Tahun 2021 akan dilaksanakan lagi cetak sawah seluas 50 hektar,” imbuh Aris.
Selain mengupayakan terus tercetaknya lahan sawah baru, Aris menyampaikan bahwa pihaknya juga terus mendorong petani agar bisa memiliki asuransi tani. Sebab untuk saat ini keikutsertaan petani dalam program tersebut terbilang masih sangat rendah.

Tercatat ada 10 persen lahan yang memiliki asuransi tani dari total keseluruhan lahan di Kulonprogo. Atau baru sekitar 205 hektar.
Padahal, lanjut Aris, dengan terdaftarnya lahan pada program asuransi ini para petani bisa memiliki jaminan berupa ganti rugi ketika lahannya terjadi bencana atau gagal panen. Adapun jumlahnya ganti ruginya sebesar Rp 6 juta per hektar, dengan biaya pendaftaran sebesar Rp 36 ribu per hektar.

“Dilihat dari segi biaya memang sangat murah. Sehingga untuk saat ini kami terus sosialisasikan agar para petani di Kulonprogo bisa memiliki asuransi tersebut,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, salah satu kelompok tani di kapanewon Kalibawang mengaku belum mendapat sosialisasi terkait dengan program tersebut. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis, Dwi Martuti menyatakan bahwa sampai sekarang ia sama sekali belum mengetahui adanya program asuransi tani.

“Kalau pogram itu (asuransi tani) sampai saat ini saya sendiri belum tahu dan belum pernah mendapat sosialisasi. Mungkin hanya dikhususkan bagi para petani padi,” terang wanita yang aktif dalam budidaya tanaman coklat ini.(inu/bah)

Kulonprogo