RADAR JOGJA – Puncak arus balik musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini diprediksi lebih awal dibanding tahun sebelumnya. Meskipun demikian tetap terjadi peningkatan signifikan terhadap pengguna jasa penerbangan.

Pantauan Radar Jogja kemarin (24/12), suasana H-1 Natal di Yogyakarta Internasional Airport (YIA) Kulonprogo terlihat cukup lenggang. Puncak keberangkatan sudah terjadi pada 20-23 Desember lalu.
Airport Duty Manager YIA Budi Wiyono mengungkapkan, ada peningkatan jumlah penumpang sebesar hampir 50 persen. Jika pada hari biasa tercatat sekitar 5.000 penumpang, menjelang Nataru ini tercatat sebanyak 8.000 penumpang di YIA.
“Untuk pergerakan pesawat (take off dan landing) menjelang Nataru ada sekitar 70-80 pergerakan. Di mana sebelumnya hanya tercatat 50-an pergerakan,” ujar Budi saat ditemui di YIA.
Selain adanya perubahan jumlah penumpang, ia memprediksi ada perubahan puncak arus balik. Dimana untuk tahun ini dimungkinkan arus balik akan terjadi lebih awal. Hal itu karena adanya aturan pemotongan cuti yang ditetapkan pemerintah. “Puncak arus balik kami prediksi tanggal 27 Desember. Hal itu karena melihat adanya keputusan pemotongan hari libur,” terangnya.
Terkait persiapan menyambut puncak arus balik serta keberangkatan, Budi mengatakan pengelola bandara sudah melakukan berbagai hal. Salah satunya dengan mendirikan dua posko rapid test antigen di dalam area bandara, sehingga dapat meminimalisasi antrean.
Budi menegaskan pada posko rapid test di juga dikhususkan bagi calon penumpang. Sehingga bagi masyarakat yang ingin melakukan rapid test antigen wajib memiliki kartu identitas dan bukti tiket yang sesuai. “Per 24 Desember ini untuk rapid test antigen kami khususkan bagi calon penumpang,” ujarnya.
Di sisi lain, Restiya, salah seorang penumpang pesawat di YIA mengaku ia memilih untuk rapid test antigen di luar bandara, agar tidak mengantre lama. Ia pun menyatakan sosialisasi terkait hasil rapid test antigen untuk syarat penerbangan juga terbilang mendadak.
“Menurut saya sosialisasi terkait rapid test antingen oleh pemerintah, kurang maksimal dan terkesan mendadak,” kritik Restiya. (inu/laz)

Kulonprogo