RADAR JOGJA – Musim hujan di masa pandemi Covid-19 ini membuat Dinkes Kulonprogo bekerja ekstra. Karena mereka juga harus mengantisipasi potensi penyakit berbahaya, seperti Leptospirosis dan DBD.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo, Baning Rahayujati menyatakan bahwa pada tahun ini jumlah kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Leptospirosis mengalami peningkatan. Total kematian dari dua penyakit ini tercatat mencapai sembilan orang.

Hingga akhir November, pihaknya mencatat ada temuan kasus DBD sebanyak 322 kasus dengan dua kasus di antaranya yang merupakan anak-anak meninggal dunia. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 296 kasus tanpa temuan penderita meninggal.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus Leptospirosis, pada periode yang sama tercatat ada temuan sebanyak 31 kasus dengan jumlah kematian sebanyak tujuh orang. Sementara pada tahun sebelumnya, penyakit Leptospirosis tercatat ada 29 kasus dengan jumlah kematian dua orang.

Sementara untuk wilayah temuan kasus DBD di Kulonprogo, Baning menyampaikan, banyak terdapat di dataran rendah. Seperti kapanewon Wates, Pengasih, Panjatan dan Nanggulan. Sementara untuk Leptospirosis disebut hampir merata di seluruh kapanewon.

Menurut dia, adanya peningkatan kasus penyakit ini karena adanya keterlambatan penanganan. Terlebih penyakit Leptospirosis yang sifatnya hampir sama dengan Covid-19 yang tidak disertai gejala. “Hampir 80 persen penderitanya tanpa gejala,” terang Baning, Rabu (2/12).

Selain dikarenakan adanya keterlambatan penanganan, Baning mengungkapkan bahwa meningkatnya jumlah kasus kedua penyakit ini juga didorong naiknya curah hujan. Terlebih dengan adanya fenomena La Nina dan pemanasan global. Sehingga ia meminta agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi lingkungannya.

Upaya pencegahan Leptospirosis dan DBD bisa dilakukan dengan perilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) juga perlu kembali digiatkan. “Pada musim-musim tersebut, kelembapan dan suhu lingkungan membuat bibit penyakit jadi bisa berkembang biak lebih cepat. Pencegahannya dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat,” imbuh Baning.(inu/pra)

Kulonprogo