RADAR JOGJA – Upaya penanganan HIV/AIDS oleh Pemkab Kulonprogo di masyarakat menemui kendala. Selain melekatnya stigma buruk terhadap para penderita HIV/AIDS, keberadaan prostitusi online juga menjadi kendala dalam pemantauan penyebaran penyakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan, hingga saat ini penderita HIV/ AIDS masih merasa malu untuk mengakui. Sehingga penanganannya menjadi sulit.

Sstigma buruk terbut, kata Baning, menjadi penyebab adanya kasus kematian di Kulonprogo. Tercatat, ada satu penderita yang merupakan seorang ibu hamil meninggal karena terlambat dalam penanganan.

”Kesulitan yang kami hadapi adalah stigma, karena menganggap bahwa HIV AIDS adalah penyakit yang memalukan,” ujar Baning, usai mengisi peringatan Hari AIDS Dunia di Kulonprogo, Selasa (1/12).

Tidak hanya stigma, Baning mengaku untuk saat ini ada kendala baru terhadap upaya pengendalian HIV/AIDS. Kaberadaan portitusi online, menyebabkan pemantauan terhadap penularan penyakit tersebut menjadi sulit dilakukan. ”Karena kami tidak tahu dimana transaksinya,” ungkap Baning.

Merujuk pada data penemuan HIV AIDS, Baning menyatakan bahwa tingkat kematian akibat penyakit tersebut terbilang cukup rendah. Dari total penemuan sebanyak 196 kasus di 12 kecamatan di Kulonprogo, tercatat hanya ada 30 penderita yang meninggal dunia. Itupun juga didorong karena ada penyakit penyerta.

Baning menambahkan, agar penderita bisa segera tertangani, saat ini pihaknya juga meningkatkan fasilitas kesehatan. Ia menyatakan bahwa seluruh puskemas di Kulonprogo kini telah bisa melakukan penanganan penyakit HIV/AIDS. ”Ketika mendapat penanganan penyakit mereka jadi putus obat (HIV AIDS),” terang Baning.

Pihaknya, kini tengah berupaya agar stigma buruk terhadap HIV/AIDS bisa berkurang di masyarakat. Yakni dengan memberikan sosialisasi bahwa penyebab HIV/AIDS tidak selalu dari perilaku yang menyimpang dan tidak menular dari hubungan sosial.

Selain itu, upaya agar kasus HIV/AIDS di Kulonprogo tidak bertambah juga dilakukan dengan pemantauan di lokasi-lokasi yang berpotensi jadi lokasi penularan. Pihaknya rutin melakukan pendekatan dan pemantauan terhadap para pelaku usaha karaoke di Kulonprogo.

Konselor HIV Kulonprogo, Melly menyampaikan bahwa saat ini berbagai upaya terus dilakukan agar para penderita bisa bertahan dari diskriminasi. Menurutnya, ada tiga hal yang harus ditekankan kepada para penderita agar bisa bertahan dari penyakit itu. Yakni pembiasaan pola hidup sehat, lebih terbuka terhadap masyarakat serta rutin dalam pengobatan. ”Intinya jangan pernah takut terhadap stigma, apalagi sampai putus dalam pengobatan,” ujarnya.(inu/bah)

Kulonprogo