RADAR JOGJA – Desa budaya di DIY telah mengalami kebangkitan setelah dilanda krisis akibat pandemi Covid-19. Segala bentuk aktivitas di desa budaya sempat ditiadakan.

“Sekarang sudah bangkit. Masyarakat dan kepala desa juga sudah mulai bisa beraktivitas mengangkat masyarakatnya. Kalau dulu pentas tidak boleh, kalau sekarang tidak apa-apa asal menerapkan protokol kesehatan,” papar Kepala Seksi Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan DIY Endang Widuri.

Di saat pandemi, pendamping yang diterjunkan juga tak berhenti bekerja. Salah satu tugasnya adalah mengajar beragam kesenian tradisional di desa budaya. “Masa kerja pendamping itu sepuluh bulan. Dari Februari sampai November. Pendampingan, misalnya, mengajari anak-anak sendratari hingga karawitan,” jelasnya.

Untuk mewadahi kreativitas desa budaya, Dinas Kebudayaan DIY mempersilakan 56 desa budaya untuk tampil di Yogyakarta International Airport (YIA) secara bertahap. Pelaku seni di desa budaya bisa menghibur penumpang di terminal keberangkatan YIA. “Kita pentas di YIA tiap Sabtu dan Minggu. Lima puluh enam desa itu pentas bergantian sampai November. Itu kita rutinkan,” jelasnya. (tor/amd)

Kulonprogo