RADAR JOGJA – Kedai Kopi Ampirono di Kalurahan Pendoworejo, Girimulyo mendapat terguran keras dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo. Itu dikarenakan kedai tersebut tidak menjalani protokol kesehatan (prokes) di masa pandemi Covid-19.

Akibatnya, petugas memasangi banner bertuliskan kawasan tidak patuh protokol. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kulonprogo memasang banner dalam kegiatan Operasi Patuh Protokol Kesehatan Covid-19 bersama jajaran Dinas Pariwisata Kulonprogo, TNI, Polri dan instansi terkait.

Pemasangan banner sebagai bentuk peringatan kepada Kedai Ampirono sebab dinilai abai prokes pencegahan Covid-19, membiarkan adanya kerumunan atau tidak menerapkan physical distancing.

Pihaknya mengaku sudah beberapa kali mengedukasi pengelola kedai Kopi Ampirono pentingnya penerapan protokol kesehatan di tempat tersebut. Namun hal itu tidak pernah diindahkan.

“Ini bentuk peringatan, sudah delapan kali kami edukasi manajer Kopi Ampirono namun tidak diindahkan, kami terpaksa mengambil keputusan untuk memberikan warning dengan pemasangan banner tersebut,” tegas Sumiran selaku bidang Pengamanan dan Penegakan Perda, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Minggu (30/8)

Dijelaskan, tidak hanya berungkali kali diingatkan tapi tak diindahkan, operasi patuh prokes dan pemasangan banner kawasan tidak patuh protokol kesehatan di Kedai Kopi Ampirono juga dilandasi laporan masyarakat yang resah dengan tidak diterapkannya protokol kesehatan di tempat tersebut.

Sekretaris Satpol PP Kulonprogo, Hera Suwanto menambahkan, pemasangan banner ini merupakan peringatan keras kepada pemilik Kedai Ampirono. Jika ke depan tidak ada perubahan, maka pihaknya bakal menutup sementara sampai protokol kesehatan pencegahan Covid-19 benar-benar diterapkan. “Kami akan pantau, jika masih saja tidak ada perubahan ya nanti ditutup,” ucapnya.

Pengelola Kopi Ampirono, Sharif Omela mengungkapkan, pihaknya merasa sudah menerapkan prokes pencegahan Covid-19 dengan ketat. Setiap pengunjung dicek suhu tubuhnya dan diwajibkan mengenakan masker, mencuci tangan. ”Di area kedai juga telah kami pasang tanda di mana pengunjung boleh duduk,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya juga membatasi jumlah kunjungan per hari dari total kapasitas 600 orang menjadi 200 orang saja. Semua dilakukan untuk mencegah terjadinya kerumunan di tempat tersebut. Setiap kunjungan juga dibatasi maksimal satu sampai dua jam. “Kami bingung kenapa kedai ini dianggap melanggar prokes, sebab sudah beberapa kali didatangi petugas kedai ini tidak melanggar aturan,” ujarnya. (tom/bah)

Kulonprogo