Underpass Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo, disebut sebagai jalan bawah tanah yang terpanjang di Indonesia. Ornamen underpass YIA ini juga berbeda dari yang lainnya, karena dikerjakan secara simultan oleh beberapa pekerja seni asal Jogjakarta.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo, Radar Jogja

RADAR JOGJA – ORNAMEN underpass YIA dikerjakan oleh para seniman instalasi. Sekitar Mei 2019, tim di bawah naungan PT Cipta Anak Bangsa yang ditunjuk langsung PT Angkasa Pura (AP) I atas permintaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) Provinsi DIJ membuat ornamen khusus untuk underpass yang sedang dibangun di kawasan bandara baru itu.

Berawal dari keinginan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X, dekorasi di underpass dibuat sedemikian rupa sehingga bisa selaras dengan konsep ornamen di bandara yang sejak awal mengusung tema seni dan budaya DIJ.  Benang merah antara dua megaproyek itu dibuat, sehingga bisa merepresentasikan DIJ sebagai ladang seni dan budaya.

“Karena kami juga mengerjakan bandara, jadi sekalian diminta mengerjakan underpass,”  ujar Bambang Toko Witjaksono di studio seni yang berada di wilayah Tegal Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Rabu (16/1).

Dijelaskan, sebelum pengerjaan tim telah berkoordinasi dengan Dinas PUPESDM DIJ dan PT Wijaya Kusuma (WIKA) selaku pelaksana proyek pembangunan underpass. Pertemuan membahas desain ornamen yang dikonsultasikan langsung dengan gubernur. Hingga akhirnya disepakati ornamen yang wajib ada yakni citra tarian khas DIJ.

“Dua tarian khas itu yakni tari angguk dan jathilan. Angguk mempresentasikan seni asli Kulonprogo, sementara jathilan dipilih karena merupakan tarian tradisional yang umum ditemui di seluruh penjuru DIJ,” jelasnya.

Dikatakan, ornamen kedua tarian itu dipasang di dua sisi dinding underpass. Sementara di pintu underpass akan dipasang ornamen yang terinsipirasi dari lingkungan Tamansari, Keraton. Di beberapa sudut underpass juga dipasang ornamen khas Kulonprogo lainnya seperti motif batik geblek renteng.

“Setelah konsep disepakati, kami buat ornamen penari dengan menunjuk seniman instalasi I Made Widya Diputra atau akrab disapa Lampung. Ia merupakan seniman berdarah Bali yang memiliki kemampuan mumpuni dalam bidang seni instalasi,”  kata Bambang yang juga dosen Seni Murni di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini.

Lampung menambahkan, Ia telah memulai tugasnya mengeerjakan ornamen underpass YIA per Agustus 2019 lalu. Ia juga sudah memperhitungkan bagaimana posisi pengendara yang melintas agar bisa melihat ornamen seakan berlenggak-lenggok bak penari sesungguhnya (ilusi).

Guna menciptakan ilusi itu, dibutuhkan 105 ornamen terdiri atas 54 penari jathilan dan 51 penari angguk. Ornamen dipasang berjejer dengan rentang jarak yang telah diperhitungkan secara seksama, masing-masing antara 10-15 meter di sepanjang kanan kiri dinding underpass.

“Angguk diletakkan di sebelah selatan, sementara jathilan di sisi utara. Agar efek gerakan semakin terlihat, bentuk ornamen dibikin agak menonjol. Dimensi ornamen juga dibuat cukup besar, dengan tinggi sekitar 3-4 meter dan lebar antara 1,5 hingga dua meter,” ungkapnya.

Sebelumnya juga sudah dilakukan semacam simulasi. Saat kendaraan melaju dengan kecepatan 40 kilometer per jam, ornamen yang terpasang akan terlihat seakan-akan bergerak. “Prinsipnya seperti animasi flip book, semakin kencang semakin keliatan gerakannya,”  ucapnya.

Adapaun teknis pembuatan ornamen, Lampung terlebih dahulu melakukan riset dengan mendatangi langsung penari aslinya. Penari diminta untuk memperagakan gerak tari komplet dengan mengenakan kostum tari. Tiap gerakan kemudian dipotret dan dipilih beberapa yang paling bagus untuk selanjutnya dijadikan desain utama cetakan.

“Karena saya tidak terlalu paham mengenai tarian, maka cara itu saya lakukan. Sebab jika cuma melihat di laman internet, kurang detail,”  ujarnya.

Tahap modeling, pencetakan dan pewarnaan menjadi salah satu tahapan yang cukup menentukan. Dikatakan, tahap itu sudah dimulai September 2019. Ia juga menggandeng sejumlah rekan seniman lainnya.

Untuk modeling dan pencetakan dilakukan di SAS Studio milik Sarjono, Jalan Samas, Kampung Paliyan, Tirtomulyo, Bantul. Proses itu diawali dengan membuat model menggunakan tanah liat. Setelah terbentuk wujud penari, bahan tanah liat dilepas dan bekas cetakannya diisi risin dan bahan fiber.

Cetakan yang jadi masuk proses pewarnaan di studio seni milik seniman instalasi Yudhi Sulistyo di wilayah Tegal Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Total tenaga yang ikut proses ini 30 orang lebih, mulai pekerja di tim pencetakan dan modeling, di pewarnaan, kemudian yang mencetak master ada lima orang.

“Kuratornya Pak Bambang dibantu koordinator lapangan untuk proses pemasangan di underpass. Kendala yang dihadapi yakni cuaca dan minimnya tenaga. Namun secara umum teknis pembuatan tidak ada masalah,” ujarnya.

Istri sekaligus manager Lampung, Hanif Zuhana Rahmawati menambahkan, peralihan musim sempat dikeluhkan sejumlah rekan yang ikut membantu pengerjaan. Terlebih saat hujan sudah mulai turun, proses pewarnaan juga terhambat.

Pejabat Pembuat Komitmen Jembatan Kretek 2 dan Underpass Kentungan Cs Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR Muhammad Sidiq Hidayat menyatakan, underpass YIA bisa dikatakan sudah selesai. Namun proses penyerahan masih belum jelas akan dilakukan.

Kendati demikian, pihaknya optimistis bisa merampungkan pembangunan ini tepat waktu, sehingga bisa dilalui kendaraan. Secara teknis terowongan sepanjang 1.400 meter itu telah menghabiskan anggaran senilai Rp 290 miliar. (laz/laz)

Kulonprogo