RADAR JOGJABadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ melakukan cek dan pemasangan alat baru early warning system (EWS) dengan teknologi yang lebih mutakhir di Kulonprogo, Senin(9/12). Perangkat baru ini dipasang di tiga lokasi yang rawan bencana.

Manager Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIJ Danang Samsu mengatakan, tiga titik alat pendeteksi longsor ini dipasang di Pedukuhan Ngrancah, Pendoworejo (Kecamatan Girimulyo); Pedukuhan Klepu, Banjararum (Kalibawang) dan Pedukuhan Jeruk, Gerbosari (Samigaluh).

“Alat yang baru ini dilengkapi  sejumlah perangkat, di antaranya rain gate (pendeteksi curah hujan), sensor ekstensometer (pendeteksi rekahan tanah) serta sensor tilt meter (pendeteksi kemiringan tanah),” kata Danang.

Dijelaskan, alat ini dipasang di sejumlah wilayah rawan bencana longsor di DIJ, termasuk di Kulonprogo. Khusus di Kulonprogo dipasang di perbukitan Menoreh yang rawan longsor dan berpotensi mengancam banyak jiwa.

“Perangkat ini nantinya akan mengirimkan data setiap dua menit sekali ke server Pusdalops BPBD Kulonprogo sebagai tanda bila bencana akan terjadi. Alat ini juga akan menjadi pertimbangan untuk menetapkan status waspada dengan tanda sirine yang telah dipasang di permukiman warga,” jelasnya.

Menurutnya, penyampaian data alat ini berbasis satelit. Jika dalam kurun waktu tertentu tidak ada update, maka petugas akan memeriksa perangkat tersebut. Sebagian alat memang sengaja dipasang saat musim kemarau pertengahan Agustus 2019 lalu.

“EWS baru ini lebih efisien dan efektif jika dibanding EWS pada umumnya yang memiliki risiko gagal  lebih tinggi. Jika pemasangan ini berhasil, maka akan diperbanyak pemasangannya,” ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana menambahkan, selain pemasangan alat detksi bencana, pihaknya juga mensosialisasikan terkait bahaya bencana tanah longsor yang kemungkinan bisa terjadi sewaktu-waktu.

“EWS ini hanya alat batu, masyarakat harus tetap waspada dan tetap mengutamakan menajamkan kepekaan terhadap kondisi alam. Kenali betul kondisi lingkungan, sebab alat ini buatan manusia dan bisa rusak kapan saja,” ucapnya.

Petugas Pusdalops BPBD Kulonprogo Slamet Riyadi mengungkapkan, penambahan EWS baru ini cukup membantu warga. Terlebih perawatannya juga lebih mudah. “Setiap sebulan sekali kami akan lakukan simulasi penyalaan sirine guna memastikan agar perangkat tetap berfungsi,”  ungkapnya.

Terpisah,  Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menilai masyarakat Jogjakarta sudah paham atas mitigasi kebencanaan. Dengan pengalaman yang ada, masyarakat Jogjakarta diharapkan lebih sigap setiap menghadapi bencana.

“Selain BPBD kami juga ada Tagana yang siap bergerak bila terjadi bencana. Yang terpenting adalah edukasi di masyarakat setiap menghadapi bencana,”  ujar Baskara Aji. (tom/bhn/laz)

Kulonprogo