KULONPROGO – Pelaksana Tugas General Manager YIA Agus Pandu Purnama mengatakan pembangunan sabuk hijau menjadi kewenangan Pemkab Kulonprogo. Sabuk hijau salah satu upaya mitigasi bencana.

“Pada prinsipnya kami sudah melaksanakan feasibility study (FS) sebelum bandara dibangun. Kami sudah simulasikan kemungkinan gempa hingga 8,8 SR. Bagaimana terjangan ombak sampai terminal, berapa kerugiannya, semua sudah dimitigasikan,” ujar Agus Pandu Jumat.

Konstruksi bangunan YIA didesain tahan gempa. Lebih tinggi 7,4 meter dari desa sekitar. Terminal YIA bisa menampung evakuasi penduduk jika ada peringatan tsunami.

“Saat terjadi tsunami, kami akan membuka pintu di sisi barat dan timur, agar masyarakat bisa menyelamatkan diri jika warning tsunami berbunyi,” ujarnya.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG DIJ, Teguh Prasetyo menyatakan, potensi pergeseran lempeng yang memicu gempa 8,8 SR disertai terjangan tsunami ketinggian 20 meter perlu diwaspadai. Apalagi tsunami pernah terjadi di sini pada masa lampau.

“Tsunami merupakan peristiwa berulang. Tsunami pernah terjadi pada 600 tahun silam. Tepatnya pada 1840, 1859, kemudian 1931 dan terakhir 2006,” kata Teguh. (tom/iwa/rg)

Kulonprogo