KULON PROGO – Pembangunan hunian relokasi magersari tahap II bagi warga terdampak bandara belum rampung. Pembersihan lahan di Kaligintung masih berlangsung.

Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kulonprogo, Suparno mengatakan, perataan lahan terkendala perbukitan. Selain itu, juga terdapat banyak pohon.

“Lelang pekerjaan sudah dilakukan. Harapanya akhir bulan ini pekerjaan bisa dimulai. Land clearing (pembersihan lahan) harus selesai pada awal tahun ini,” kata Suparno (21/1).

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo menganggarkan Rp 500 juta untuk pembersihan dan pemadatan lahan tersebut. Pembangunan perumahan bagi warga miskin itu nantinya ditangani Satuan Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Kami berharap pekerjaan fisik rumah bisa dimulai Maret 2019. Kementerian PUPR bisa langsung terjun usai pembersihan lahan. Kalau belum siap, ya belum berani (membangun),” ujar Suparno.

Perumahan di Kaligintung terdiri dari dua blok besar. Terpisah sekitar 200 meter. Hal ini mengikuti ketersediaan lahan berikut kontur tanahnya perbukitan memanjang yang berundak-undak.

“Kami kesulitan membuat siteplan di lahan Paku Alam Ground (PAG) seluas 11.000 meter persegi itu. Karena konturnya unik,’’ kata Suparno.

Akan ada 50 unit rumah yang dibangun di lahan tersebut. Luas setiap kapling serupa dengan Kedundang. Yakni 80 meter persegi. Tipenya 36,” kata Suparno.
Kepala Desa Glagah, Agus Parmono menyebutkan, warganya banyak yang berminat menempati rumah relokasi magersari tahap II tersebut. Yakni warga terdampak bandara, Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), dan underpass.

“Pendaftar magersari di Kedundang ada 40 orang. Namun baru 16 orang yang tertampung dan terverifikasi menjadi penghuni,” kata Agus. (tom/iwa/fn)

Kulonprogo