KULONPROGO – Ratusan koperasi di Kulonprogo terencam gulung tikar. Bahkan 27 koperasi sudah dibubarkan akhir 2016. Mereka adalah koperasi pasif, tanpa pengurus, tidak pernah menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) dan tidak menjalankan usaha apapun.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kulonprogo Sri Harmintarti mengatakan jumlah koperasi pada 2016 mencapai 392 unit.

“Sebanyak 27 koperasi terpaksa dibubarkan. Sebanyak 25 unit merupakan koperasi pasif, sedangkan lainnya dibubarkan atas permintaan anggota,” kata Harmintarti kemarin (1/8).

Pada tingkat provinsi DIJ, kata Hermintarti, pembubaran dilakukan terhadap 414 dari 2.738 unit koperasi. Kondisi itu bukan berarti ada penurunan kualitas pelayanan koperasi.

“Keberhasilan koperasi tidak ditentukan banyaknya jumlah koperasi, tapi pada kinerja koperasi itu,” katanya.

Penyebab utama pasifnya koperasi bukan karena kurangnya kapasitas sumber daya manusia (SDM). Melainkan posisi koperasi yang sering ditempatkan sebagai kegiatan sampingan.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengatakan koperasi berkembang baik di Kulonprogo. Hal itu terlihat dari besarnya volume usaha dan nilai aset yang dimiliki koperasi.

“Total aset pada 2015 Rp 256,514 miliar dan 2016 meningkat menjadi Rp 282,165 miliar,” ungkapnya.

Pembubaran koperasi pasif sah dilakukan. Bahkan harus dilakukan dengan alasan yang jelas. “Koperasi yang tidak bergerak di sektor rill dan perannya sudah overlapping dengan lembaga lain untuk apa dipertahankan?” tanya dia.

Hasto berharap koperasi tidak hanya fokus menjalankan kegiatan usaha simpan pinjam. Koperasi harus didorong bergerak di sektor riil yang lebih produktif

“Contohnya usaha perdagangan. Sehingga koperasi bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja sehingga mampu membangun ekonomi kerakyatan,” harapnya. (tom/iwa/ong)

Bisnis