KULONPROGO – Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsda TNI Yuyu Sutisna memantau trial Portable Radar Weibel MR-2. Pemantauan dilakukan di Satradar TNI AU 215 Congot kemarin (1/8).

Radar buatan Denmark tersebut berhasil menuntun atau menggaet pesawat termpur yang terbang di radius terjauh jangkauan radar. Yuyu Sutisna didampingi tenaga ahli dari pabrikan Denmark.

Yuyu Sutisna mengatakan peningkatan pengawasan wilayah udara RI perlu ditingkatkan. Radar lama produksi Perancis 1962 diganti dengan radar terbaru tersebut.

“Setelah seminggu uji coba, kami coba menuntun atau menggaet pesawat tempur yang kami terbangkan dari Lanud Iswayudi. Kami terbangkan dua kali dengan radius terjauh tangkapan radar 150 Nm, dan ternya terpantau atau tertangkap dengan baik,” kata Yuyu Sutisna.

TNI AU siap untuk back up bandara Kulonprogo khususnya untuk mengawasi ruang udara. “Tiga perempat daerah latihan Lanud Iswahyudi juga bisa ter-cover dari sini. Radius 450 kilometer bisa kami pantau,” tegas Yuyu Sutisna.
Menurut dia, semua pesawat bisa terpantau dengan jelas. Khususnya di wilayah perbatasan dengan Australia. Juga mampu memantau pergerakan kapal induk dan infiltrasi lainnya.

“Belum pernah ada infiltrasi dari selatan. Namun karena selatan sangat terbuka kami harus mengantisipasi kemungkinan infiltrasi itu. Ada tiga radar yang memantau selatan, di Pelabuhan Ratu, Congot dan Ngliyep,” ujar Yuyu Sutisna.

Komandan Satradar TNI AU 215 Congot Mayor (Lek) Joko Dwi Maryanto mengatakan TNI AU telah membeli dua radar Doppler produksi Weibel Scientific Denmark. “Radar ini dipilih karena mobile, mudah diangkut dan dipindahkan,” kata Joko. (tom/iwa/ong)

Kulonprogo