RADARJOGJA.CO.ID – Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY), Centre for Orangutan Protection (COP) dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ akan melepasliarkan 10 merak hijau atau merak jawa. Pelepasan akan dilakukan di Taman Nasional Baluran Banyuwangi Minggu (19/2) mendatang.

Selain merak jawa (Pavo muticus muticus), tiga ekor ular sanca bondo (Python molurus) juga akan dilepasliarkan di lokasi yang sama (Taman Nasional Baluran).

“Satwa-satwa itu sitaan dan penyerahan dari masyarakat yang kami rehabilitasi di sini (WRC Jogja-site milik YKAY di Sendangsari, Pengasih),” kata Manager Konservasi YKAY sekaligus dokter hewan YKAY Randy Kusuma .

Dijelaskan, kondisi satwa-satwa tersebut baik dan dinilai sudah siap dikembalikan ke alam. Satwa-satwa tersebut sudah direhabilitasi sekitar setahun. Awalnya burung merak ada 14 ekor, namun dalam upaya perawatan dan rehabilitasi empat ekor merak tidak dapat diselamatkan.

Empat burung merak yang mati adalah hasil operasi perdagangan satwa pada Februari 2016 yang dilakukan Mabes Polri serta beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang satwa liar. Yakni Center for Orangutan Protection (COP) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

“Kondisi satwa waktu itu masih anakan dengan lingkungan saat di pedagang tidak baik. Hal itu kemudian berdampak kepada kesehatan satwa sehingga tidak dapat bertahan,” kata Randy.

Ketua Dewan Pembina YKAY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi mengatakan pelepasliaran satwa yang telah dirawat dan direhabilitasi YKAY merupakan langkah nyata lembaga yang dipimpinnya untuk konservasi satwa liar.

“Program pelepasliaran menjadi tanggung jawab kami selaku lembaga konservasi kepada masyarakat. Bahwa satwa yang dititipkan negara kepada YKAY bisa dirawat dan kami kembalikan ke habitatnya,” kata Mangkubumi.

Menurut dia, rehabilitasi satwa dan pelepasliaran ke alam membutuhkan dana besar dan pihaknya harus mencari sendiri. Untuk itu kita mengharapkan kepedulian lembaga pemerintah maupun swasta untuk ikut berpartisipasi untuk penyelamatan satwa Indonesia.

“Kami mengharapkan masyarakat makin sadar untuk tidak membeli dan memelihara satwa liar. Satwa liar bukan binatang peliharaan, jika masyarakat memelihara satwa liar maka perdagangan satwa liar ilegal juga akan terus terjadi. Dampak jangka panjangnya satwa-satwa kita yang luar biasa ini akan hilang dan punah,” ujar Mangkubumi.

Sementara itu Action Coordinator COP Daniek Hendarto menambahkan, COP mendukung pelepasliaran satwa tersebut. Khususnya untuk 10 ekor merak menjadi barang bukti perdagangan ilegal tanggal 7 Februari 2016 lalu.

“Kami bersama Bareskrim Mabes Polri dan JAAN di Bantul saat itu menghentikan perdagangan satwa liar ilegal. Kami bersinergi dan sangat bagus sekali. Terlebih tidak hanya upaya hukum yang dilakukan, namun dilanjutkan dengan rehabilitasi dan pelepasliaran oleh WRC (YKAY),” kata Daniek. (tom/iwa/mar)

Kulonprogo