RADARJOGJA.CO.ID – Para pemilik bangunan liar di areal sempadan kawasan Pantai Glagah membandel. Meskipun dilarang, mereka masih terus melakukan pengerjaan bangunan ilegal. Kebanyakan berupa penginapan.

Mereka memanfaatkan lahan Paku Alam Ground (PAG) yang ada di petak antara pos jaga Polair Glagah hingga Joglo Labuhan sisi barat kawasan wisata tersebut. Lahan sudah dikapling-kapling untuk didirikan bangunan.

Belakangan diketahui bangunan itu kebanyakan didirikan warga terdampak bandara NYIA. Terutama, pengusaha hotel dan penginapan yang kehilangan tempat usahanya karena terimbas megaproyek tersebut.

Hal ini setidaknya diakui pemilik penginapan, Tamtomo. Menurut dia, setelah hotelnya di sisi utara terkena proyek bandara dan sudah diganti rugi, dia lantas berupaya membangun penggantinya di sisi selatan atau di areal sempadan. Saat ini, calon hotel tersebut masih dalam tahap pembangunan pondasi.

“Rencananya mau bikin sekitar 20-25 kamar,” kata Tantomo (15/1).

Dia dan para pemilik bangunan ilegal lain sudah dipanggil Pemkab Kulonprogo melalui Satpol PP. Dalam pertemuan itu dijelaskan terkait larangan mendirikan bangunan di wilayah itu.

Namun, tidak ada tindakan tegas dari instansi terkait atas kondisi itu. Maka, para pemilik bangunan tetap melanjutkan pekerjaannya. “Belum ada instruksi apa-apa lagi kok,” kilah Tantomo. (tom/iwamar)

Kulonprogo