HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
ANTUSIAS: Warga mengikuti grebeg gunungan dalam acara Wiwitan Pedukuhan Geden, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, kemarin (17/4).
KULONPROGO-Petani di Pedukuhan Geden, Desa Sidorejo, Kecamatan Lendah mengawali panen raya dengan tradisi wiwitan kemarin (17/4). Acara berlangsung meriah dengan kirab bergodo, grebeg gunungan, dan pentas seni. “Ini sudah jadi agenda rutin. Selain sebagai bentuk rasa syukur, juga untuk melestarikan budaya leluhur,” kata panita sekaligus sesepuh Desa Sidorejo Waluyo Jati.

Pedukuhan Geden dihuni 106 kepala keluarga (KK) atau 301 jiwa. Luas lahan sekitar 52 hektare, terdiri dari areal persawahan 8 hektare, tegalan 24 hektare, dan pekarangan 20 hektare. Delapan hektare lahan sawah itu digarap sekitar 75 KK. Selebihnya bekerja sebagai buruh dan pegawai.

Panen padi kali ini hasilnya cukup memuaskan, dari lahan seluas 2,5 meter persegi mampu menghasilkan padi basah 7 kilogram. Untuk sawah tadah hujan tanpa jaringan irigasi permanen, hasil ini masuk kategori bagus.

Kelompok Tani (Klomtan) Sido Dadi Pedukuhan Geden saat ini memiliki aset Rp 50 juta. Selain itu juga sudah memiliki traktor dua unit, alat semprot (tiga unit), pompa air diesel (10 unit) dan alat panen (satu unit).

“Karena sawah tadah hujan, pola taman padi di sini menggunakan teknis jejer legowo. Proses tanam mengandalkan hujan, saat hujan selesai di pertengah musim maka petani harus sedot air untuk mengairi padi dengan pompa diesel,” imbuhnya.

Magut, 61, warga Karang, Desa Jatirejo mengungkapkan, sengaja datang untuk ikut memperebutkan gunungan hasil bumi. Setiap tahun dia selalu mengikuti tradisi wiwitan di Pedukugan Geden.

Elenor, warga Australia memaparkan, tradisi wiwitan ini cukup menarik. Tidak hanya di Kulonprogo dia juga menyaksikan di Sleman dan Bantul. “Ini tradisi Jawa yang unik, saya sengaja datang untuk melihat secara langsung, bahkan ikut merasakan sajian makanan khas pedesaan yang menurut saya cukup nikmat,” tandasnya. (tom/din)

Kulonprogo