HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
TERGANGGU LIMBAH: Salah satu lokasi tambak udang di Pedukuhan Pasir Mendit, Desa Jangkaran, Temon, kemarin (30/3). Limbah tambak yang berupa sisa makanan dan kotoran udang menjadi pemicu munculnya virus berak putih.
KULONPROGO-Budidaya udang vaname di sepanjang pesisir selatan Kulonprogo dinilai sangat menjanjikan dan mengangkat perekonomian warga. Namun akhir-akhir para petambak harus menghadapi virus berak putih dan mio yang mengganggu pertumbuhan udang.

Kondisi itu juga dialami para petambak udang di Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu, Desa Jangkaran, Temon. Akibat virus ini, produktifitas udang menurun dan keuntungan otomatis berkurang. “Saat ini ada sekitar 100 tambak udang seluas 30 hektare,”kata Ketua Kelompok Petambak Udang Pasir Mendit Windu Makmur Purwo Sarjono kemarin (30/3).

Budidaya udang di Pantai Pasir Mendit dan Pasir Kadilangu mulai berkembang sekitar 2011. Dari sekian banyak petambak yang ada, hanya Kelompok Windu Makmur yang menggunakan sistem pengelolaan berkelompok. Yang lainnya dikelola sendiri-sendiri. Windu Makmur beranggotakan tujuh orang. Mereka mengelola lima petak tambak seluas 6.000 meter persegi. Saat kondisi baik bisa menghasilkan 2 ton – 2,25 ton sekali panen.

Sarjono mengakui jika saat ini hampir seluruh tambak di pesisir Kulonprogo ada serangan virus berak putih dan mio. Kedua penyakit ini menyebabkan udang tidak mau makan. Sehingga pertumbuhannya terganggu. “Penyakit ini, disebabkan pembuangan limbah yang buruk,” jelasnya.

Virus mio dan berak putih biasanya menyerang udang saat usianya sekitar satu bulan pasca tabur. Cara mengatasinya dengan probiotik dicampur dengan pakan.

Menurut Sarjono, dalam kondis normal untuk mendapatkan udang dengan size 100 (100 ekor udang per kilogramnya, Red) hanya dibutuhkan waktu 60 hari. Namun kini udang usia 70 hari ukurannya hanya 105-106 ekor per kilogram. “Untuk mencapai size 90 bahkan membutuhkan waktu 80 hari. Walaupun masih untung tapi keuntungannya berkurang banyak,” ujarnya.

Sarjono menambahkan, selain diserang penyakit, harga jual udang saat ini juga turun dibanding panen sebelumnya. Harganya turun mulai Rp 100 ribu per kilogram untuk size 100, kini hanya laku Rp 60 ribu – Rp 50 ribu.

Harga udang cukup dipengaruhi kurs dolar, karena udang vaname kebanyakan untuk komoditas ekspor. Selain kurs dolar, harga jual juga dipengaruhi posisi panen di daerah lain di Indonesia atau bahkan di negara lain.

Udang dari Kulonprogo biasanya dibeli oleh eksporter dari Cilacap, Semarang, dan Cirebon. Udang akan masuk pabrik pengemasan di sana. Sebelum kemudian diekspor.(tom/din/ong)

Kulonprogo