KULONPROGO-Warga tardampak bandara di Glagah, Temon menolak rencana relokasi gratis ke tanah Paku Alam Ground (PAG) di Desa Kaligintung dan Kulur. Mereka masih berharap dengan rencana relokasi seperti semula, yakni di tanah kas Desa Glagah sendiri.

Kepala Desa Glagah Agus Parmono menyatakan, warga dua pedukuhan yakni Kepek dan Bapangan bersedia direlokasi secara bedol pedukuhan namun tetap menjadi bagian Desa Glagah.

Sementara jika direlokasi ke tanah PAG di Kaligintung atau Kulur, dua pedukuhan tersebut akan hilang. Hal itu menjadi alasan penolakan warga. Karena selain hanya akan menempati tanah magersari juga ada empat perangkat desa yang akan kehilangan jabatannya. “Ada empat pamong desa yang akan kehilangan jabatan. Yakni Dukuh Kepek, Bapangan, kasi pendapatan, kasi perencanaan, dan sekretaris desa di dua pedukuhan itu,” jelasnya kemarin (28/3).

Sekda Kulonprogo RM Astungkoro menjelaskan, memang ada persoalan yang mengemuka terkait enam perangkat desa yakni dua di Desa Palihan dan empat di Desa Glagah, yang dikhawatirkan akan kehilangan jabatan. Namun menurutnya persoalan perangkat desa sebenarnya tidak menjadi masalah.

Alasannya, ada perangkat desa yang memiliki tanah lain di desanya. Sehingga tetap bisa tinggal di desa tersebut dan tetap menjadi perangkat. Sedangkan untuk dukuh, sejak awal sudah direncanakan bahwa tidak akan ada pedukuhan yang hilang.

“Misalnya warganya memilih relokasi di PAG di Kulur, juga akan dijadikan pedukuhan baru dengan dukuhnya jadi bagian Desa Kulur. Atau begitu juga kalau warganya memilih di Janten,” jelasnya.(tom/din/ong)

Kulonprogo