Hendri Utomo/Radar Jogja
SADAR INTERNET: Melalui blog yang dibuatkan kenalannya dari Bandung, hasil anyaman bambu Mujimin kini tembus pasar luar negeri seperti Singapura, Malaysia hingga Denmark.

Pasarkan lewat Blog, Pesanan pun Banyak dari Luar Negeri

Awalnya kecewa dan terpaksa karena bambu yang sudah ditebang batal dibeli oleh pemesannya. Hal itu justru membuat Mujimin, 40, warga Dusun Nabin RT 22 RW 10, Sidomulyo, Pengasih, menjadi ahli menganyam bambu.

HENDRI UTOMO, Kulonprogo
USIANYA hampir setengah abad, namun tangan Mujimin masih tampak cekatan mengubah gelondongan bambu menjadi barang yang bernilai ekonomi tinggi. Berkat keuletannya, omzet yang kini ia terima sudah mencapai jutaan rupiah setiap bulan.

Namun bapak dua anak itu tidak cepat merasa puas. Ia terus mengembangkan keterampilannya. Kini, sudah sekitar 104 motif anyaman bambu ia kuasai. Ia juga sudah mulai menyasar pasar Eropa yakni Denmark.

“Kalau yang itu pesanan warga Wates, seorang pengusaha batu mulia,” ucap Mujimin kemarin (11/3). Pria sederhana itu kini sudah dikenal di pesanan lokal, luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Anyaman bambu yang paling banyak dipesan yakni motif anyaman bambu untuk eternit, interior dan eksterior ruangan, gazebo, arena bermain anak, sekat ruangan dan sebagainya.

“Jalan rezeki ini saya peroleh secara tidak sengaja, mengingat sebelumnya saya hanya berjualan bambu. Sekitar tahun 2003, ada pembeli yang membatalkan pesanan senilai Rp 1,2 juta, padahal bambunya sudah saya tebang, akhirnya saya mulai coba menganyam,” ujarnya.

Mujimin mengenang, saat itu ketika pemesan batal membeli bambu Mujimin terpaksa yang harus bertanggung jawab. Ia harus membayar semua bambu-bambu yang sudah terlanjur ditebang itu.

Bambu-bambu itu kemudian ia bawa pulang. Kendati tak memiliki keterampilan, Mujimin tetap mencoba menganyam bambu wulung. Sedianya, hasil anyaman akan dipakai sendiri, namun di luar dugaan ada tetangga yang melihat dan tertarik untuk membeli. “Akhirnya saya jual saja untuk membayar bahan bakunya,” kenang suami Suyanti ini.

Keterampilan Mujimin dalam menganyam bambu akhirnya dengan cepat menyebar di masyarakat. Ia kemudian ikut beberapa projek pembenahan shelter pengungsi erupsi Merapi, bahkan memasang eternit masjid di Lampung.

“Melalui media sosial saya pasarkan dan berkembang pesat. Awalnya ada orang Bandung yang berbaik hati membuatkan blog untuk usaha ini saya, akhirnya banyak permintaan dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan luar negeri pesan,” terangnya.

Mujimin menggunakan bambu wulung sebagai bahan baku, hal itu tidak terlepas dari karakter bambu yang lebih kuat dan lebih variatif jika dianyam. Namun sesekali ia juga menggunakan bambu apus dan bambu legi, menyesuaikan permintaan konsumen.

“Bambu saya dapat dari sekitar rumah. Kalau sudah jadi anyaman, saya jual dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu per meter persegi. Harganya tergantung tingkat kesulitan pembuatan,” imbuhnya.

Kelebihan kerajinan Mujimin semua dikerjakan dengan manual (tangan). Dalam sehari ia mampu membuat anyaman bambu satu meter per segi. Kualitas anyaman tidak diragukan lagi. Produksinya kini sudah banyak ditemukan di DIJ, Jambi, Ngawi, Jember, Bojonegoro, Pekanbaru hingga Malaysia, Singapura, juga Denmark.

“Kalau ditanya kendalanya, ya tenaga. Beberapa kali saya mencoba mengadakan pelatihan, namun tidak ada satu pun yang berhasil menguasai keterampilan menganyam bambu. Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu untuk regenerasi SDM,” tandasnya. (laz/ong)

Kulonprogo