WARGA SIAGA: Antusiasme warga mengikuti simulasi bencana yang dilaksanakan di Talunombo, Sidomulyo, Pengasih, kemarin (7/3). Kegiatan ini untuk meningkatkan kesiapan warga menghadapi bencana yang terjadi setiap saat.

KULONPROGO- Sebanyak 66 desa yang masuk wilayah rawan longsor, tahun ini ditargetkan akan ditingkatkan statusnya menjadi desa tangguh bencana.

Hal itu tidak terlepas dari topografi wilayah Kulonprogo yang memiliki dataran tinggi, dataran rendah, dan pesisir. Wilayah-wilayah ini menyimpan potensi bencana. Baik longsor, banjir, angin kencang, maupun tsunami.

“Kulonprogo ada 88 desa. Sebanyak 66 di antaranya daerah rawan longsor. Saat ini desa tanggap bencana 22 desa, tahun 2016 ditarget 66 desa rawan bencana itu menjadi desa tangguh bencana,” kata Sekda Kulonprogo Ir Astungkoro MHum saat evaluasi kegiatan simulasi bencana tanah longsor di Talunombo, Sidomulyo, Pengasih kemarin (7/3).

Astungkoro menjelaskan, simulasi sangat penting untuk melihat kesiapan warga dan juga personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tim SAR, TNI/Polri dan relawan saat menghadapi kejadian bencana. “Simulasi ini membuktikan kesiapan 100 persen. Mulai konsep, manajemen risiko, penangan, pemulihan dan kontinuitas operasional di lapangan,” jelasnya.

Menurut Astungkoro, kesiapsiagaan warga menghadapi bencana sangat dibutuhkan.

Kuncinya, warga tidak boleh emosional dalam menghadapi bencana. Kepala desa memegang peran yang sangat sentral dalam bencana, karena saat dia-lah yang pertama memberikan komando dan mengarahkan warganya.

Belajar dari peristiwa longsor di Samigaluh yang sempat memakan korban jiwa, sebetulnya longsornya tidak terlalu besar. “Saya berharap simulasi ini bisa tertanam di warga. Sehingga saat ada kejadian bisa tepat bertindak. Karena warga yang pertama berhadapan langsung dengan bencana,” ujarnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIJ Heri Siswanto menambahkan, sekenario simulasi disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan prosedur kontijensi.

Karena berada di ketinggian 600 di atas permukaan laut (dpl), wilayah Sidomulyo khususnya Talunombo merupakan salah satu titik rawan longsor. Simulasi diikuti 200 orang, melibatkan warga, anggota BPBD, Tim SAR, TNI/Polri, dan relawan.

BPBD DIJ telah melakukan pemetaan. Dari total 438 desa, 301 di antaranya merupakan desa rawan bencana. Dari jumlah tersebut, 111 desa sudah menyandang status desa tangguh bencana di tahun 2012. Sementara di tahun 2015 bertambah menjadi 142. BPBD terus mendorong kepala daerah untuk menganggarkan desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana. Ketangguhan juga harus dibangun dengan pendekatan teritorial.

Kades Sidomulyo Kabul memaparkan, desa Sidomulyo terdiri dari 1.600 kepala keluarga (KK) atau 6.000 jiwa yang tersebar di 13 pedukuhan. Dari 13 pedukuhan tersebut, empat di antaranya berada di wilayah rawan bencana longsor (Talunombo, Secang, Tanggulangin, dan Kutogiri).

Dalam simulasi ini disimulasikan terjadi bencana tanah longsor. Korbannya 1 meninggal dunia, dua luka berat, dan empat luka ringan. Disimulasikan juga aksi pencuri oknum yang memanfaatkan situasi bencana.

Sakiran, 70, warga Talunombo mengaku senang mengikuti simulasi ini. “Latihan atau simulai seperti ini sangat perlu. Supaya kalau ada kejadian kami siap. Kebetulan wilayah kami berada di daerah rawan longsor, dan sering terjadi longsor,” ujarnya.(tom/din/ong)

Kulonprogo