GUNAWAN/RADAR JOGJAN

JLIMET: Salah seorang pemohon SIM tengah melakukan perekaman data sidik jari di Polres Gunungkidul, kemarin (18/12).

WONOSARI – Polres Gunungkidul belum lama ini menerima kiriman mesin baru pencetak fisik surat izin mengemudi (SIM). Mesin baru tersebut pengoperasiannya lebih njlimet sehingga membutuhkan proses cukup lama. Alhasil, Satlantas terpaksa membatasi jumlah permohonan SIM karena khawatir pelayanan untuk masyarakat tidak berjalan dengan baik.
Baur SIM Polres Gunungkidul Aiptu Slamet mengatakan mesin baru pencetak SIM diterima Senin (15/12) lalu. Berbeda dengan mesin lama, peralatan sekarang diklaim lebih canggih. Mesin itu bisa mem-permudah pengungkapan perkara hukum. Sebab sebelum uji di lapangan, pemohon SIM diwajibkan mengisi data diri dan foto kemudian sesi terakhir baru pemotretan. “Nah, ini kendalanya. Proses identi-fikasi dan verifikasi tidak lagi meng-gunakan dua jari namun sepuluh jari sekaligus. Jadi waktu perekaman sidik jari sekarang membutuhkan waktu lama,” kata Slamet, kemarin (17/12).
Oleh karena itu, pihaknya berini-siatif membatasi jumlah pemohon SIM. Kalau tidak, fungsi kecepatan pelayanan dari kepolisian tidak berjalan dengan maksimal. Sebagai contoh, kejadian dua hari lalu di mana tidak ada pembatasan pemohon, proses pembuatan SIM berakhir hingga pukul 00.00. Terang saja, baik petugas maupun masyarakat menjadi tidak nyaman. “Kalau dulu kan tidak ada pembatasan pemohon SIM, tapi sekarang dibatasi supaya semua enak,” terangnya.
Bendahara Penerima (Benma) SIM Polres Gunungkidul Aipda Sumarna mengatakan lambannya produksi cetak SIM juga berlangsung di seluruh DIJ. “Untuk daerah Sleman saja yang mendapatkan dua mesin baru produksi SIM, juga mengalami hal serupa. Proses produksi SIM juga hingga malam hari,” terangnya. (gun/ila/ong)

Kulonprogo