KULONPROGO – Pembangunan kesehatan harus diawali dengan sikap masyarakat dalam menjaga kebersihan. Salah satunya dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Tahun 2011, pemkab bersama DPRD membuat perda tentang sampah untuk mengatur pengelolaan sampah di Kulonprogo.
“Dengan perda sampah tersebut, kepedulian serta partisipasi masyarakat dalam memperhatikan sampah harus lebih baik. Warga diharapkan lebih tertib dalam urusan mengelola sampah, minimal tidak membuang sampah sembarangan,” ujar Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat menerima Tim Verifikasi Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada dari Kementerian Kesehatan RI, di Gedung Kaca, Kompleks Pemkab Kulonprogo, baru-baru ini (15/10).
Hasto menerangkan kebijakan ini bertujuan supaya rumah-rumah di kota Wates diberikan tempat untuk menampung sampah. Pemkab juga membuat tim angkutan sampah dengan kendaraan bermotor roda tiga. “Bak-bak sampah di pinggir jalan yang mengganggu pemandangan dan kesehatan justru kita singkirkan,” terangnya.
Hasto menambahkan saat ini pemkab juga tengah menekankan realisasi tempat pembuangan sampah sementara (TPST) yang dikelola kelompok swadaya masyarakat. TPST ini mengedepankan 3R (reduce, reuse, recycle). Tujuannya residu sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) bisa diminamilisasi.
Realisasi itu harus diperkuat dengan adanya kelompok masyarakat yang membuat bank sampah. Dimana dalam bank sampah ini dilakukan upaya 3R. Program ini juga diharapkan bisa merekrut warga kurang sejahtera, yang akhirnya ikut membantu mengentaskan pengangguran dan kemiskinan.
“Karena hasil mengolah sampah itu bisa dijual menjadi pupuk dan plastiknya bisa menjadi produk daur ulang yang bernilai jual. Sementara cita-cita zero residu di Kulonprogo terkoneksi dengan ekonomi kerakyatan, karena bisa memberdayakan masyarakat,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, Butapi Hasto Wardoyo sempat memberi presentasi mengenai peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi (kespro) dan keluarga berencana yang ditekankan pada peningkatan peran serta KB pria dengan reward kambing. Materi kespro juga mulai diajarkan ke sekolah dari tingkat SD hingga SLTA se-Kulonprogo.
Sementara itu, tim Verifikasi Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada terdiri dari 10 orang dan dipimpin oleh Sekretaris Badan Litbangkes Departemen Kesehatan Ria Soekarno. Dalam kesempatan itu tim sempat menanyakan penanganan malaria, serta memberi saran untuk penerbitan perda yang mengatur tentang WC.
Penghargaan Manggala Karya Bakti Husada sendiri merupakan salah satu bentuk penghargaan dari Kementrian Kesehatan yang diberikan kepada lembaga yang sukses memajukan program kesehatan.
Ria Sukarno menjelaskan tim yang dipimpinnya kali ini datang untuk melihat secara langsung keberhasilan pembangunan di Kulonprogo dan peran serta masyarakatnya. Kedatangan tim juga sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih terhadap peran serta seluruh warga dalam pengabdian dan dedikasi pembangunan kesehatan. (tom/ila/ong)

Kulonprogo