Harga di Agen Rp 12. 750, Dijual Rp 20 Ribu/ Tabung

KARANGMOJO – Harga gas elpiji ukuran 3 kg atau yang biasa disebut gas melon di Gunungkidul melambung tinggi. Jika sebelumnya dibandrol Rp 16 ribu hingga Rp 18 ribu per tabung, mulai kemarin sudah ada yang menjual dengan harga Rp 20 ribu per tabung.
Kenaikan harga gas melon ini terjadi diduga dipicu oleh stok gas elpiji ukuran 12 kg yang sudah menipis, bahkan habis. Karena kehabisan, maka konsumen yang biasa menggunakan gas elpiji ukuran 12 kg, mulai beralih ke gas melon.
Dari data yang didapat Radar Jogja, hingga kemarin harga gas bersubsidi tersebut naik berfariatif. Dan yang tertinggi adalah Rp 20 ribu/tabung. Pihak pengecer tampaknya mengambil kesempatan untuk mencari keuntungan yang lebih, sebab harga di agen hanya Rp 12. 750.
Salah seorang warga Ngawis, Kecamatan Karangmojo, Dedy W mengaku kesulitan mencari gas melon. “Saya muter-muter ke sejumlah pengecer tapi stok habis. Begitu dapat harganya Rp 20 ribu,” kata Dedy W, kemarin (18/9).
Ayah satu anak ini tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa megeluarkan uang lebih guna mendapatkan gas melon tersebut. “Sebagai masyarakat kecil, kami hanya bisa berharap permasalahan ini segera diatasi oleh yang berwenang,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi ke pengecer, mereka menaikkan harga karena gas melon tersebut sulit dicari. Dengan itung-itungan ongkos mencari agen, maka pengecer secara sepihak memutuskan menjual harga dengan nominal Rp 20 ribu per tabung. “Kami terpaksa menaikkan harga karena menyesuaikan situasi dan kondisi, sebagai pengecer tentu kami juga tidak mau rugi,” ujar pengecer gas elpiji yang tak mau disebutkan namanya ini.
Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperas dan ESDM Gunungkidul Sumaryadi membenarkan bahwa sejak kenaikan gas LPG 12 kg hari lalu, masyarakat memburu gas melon. Migrasi tersebut diperoleh berdasarkan pemantauan lapangan yang dilakukan belum lama ini.
“Ada peningkatan permintaan gas 3 kg sebagai dampak kenaikan gas LPG 12 kg. Namun demikian akibat migrasi ini masih bisa diatasi,” kata Sumaryadi.
Meski demikian, efek domino yang kemudian muncul adalah pergerakan harga di tingkat pengecer. Jika kenaikan tidak jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET) masih dimaklumi, misalnya ke harga Rp18 ribu.
Tetapi kalau sudah melebihi angka tersebut dan penjual dipergoki oleh petugas bakal dilakukan penindakan. “Tahap awal akan kami tegur,” ucapnya.
Disinggung kemungkinan terjadi migrasi besar-besaran, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pertamina. Dalam kesempatan itu muncul sejumlah opsi, di antaranya kemungkinan penambahan kuota. “Seperti pada momen Lebaran lalu. Kami mendapatkan tambahan sebanyak 17 persen,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Disperindagkoptam Hidayat mengatakan, sisa kuota gas melon sekarang adalah 2.667.321,6 tabung. Kemudian sisa kuota selama lima bulan, per Agustus 1.507.537 tabung. Sekarang kuota gas 3 kilogram masih mencukupi meski terjadi migrasi dari pengguna gas 12 kg ke 3 kg. (gun/jko)

Kulonprogo