GIRISIBO – Nelayan Pantai Sadeng, Desa Pucung, Kecamatan Girisubo tengah beruntung. Pulang melaut mendapat tangkapan cukup memuaskan. Begitu turun dari kapal, rezeki laut tersebut langsung dilelang secara terbuka.Kejadian menggembirakan tersebut berlangsung pada Sabtu (12/7). Sejumlah kapal nelayan usai mengarungi lautan antre untuk berlabuh. Dari terpian puluhan orang sudah berkumpul. Terlihat ramai, karena begitu kapal sandar, tangkapan ikan sebesar telapak tangan orang dewasa hingga ukuran dua kali paha orang dewasa menjadi pemandangan menarik. Masih terlihat sangat segar, kemudian digotong ke tempat pelelangan ikan (TPI) setempat.
“Ayo, kita buka mulai lelang,” teriak salah seorang juru lelang menawarkan kepada kerumunan orang tersebut.Tidak menunggu lama, tumpukan ikan diperkirakan lebih dari 100 kilogram langsung diboyong pembeli. Begitu seterusnya, jika tumpukan ikan dari kapal nelayan datang langsung disebar ke lantai TPI.
Tidak kalah ramainya, di lokasi yang sama sejumlah pedagang menawarkan ikan jualannya. Dagangan mereka menarik perhatian pengunjung. Di antaranya langsung transaksi, namun tidak sedikit hanya melihat-lihat.”Tidak usah ikut lelang, beli di sini saja malah lebih murah,” kata salah seorang pedagang Rujini mencoba merayu pembeli.Untuk jenis ikan ukuran kaki orang dewasa, Rujini mematok harga per kilogram Rp 15 ribu. Seorang pembeli kemudian mengeluarkan uang dari saku dan minta empat kilogram dibungkus tanpa dipotong.”Biarkan utuh, nanti saya potong di rumah sambil menunggu buka puasa,” kata Purwanto warga Tegalrejo, Gedangsari.Namun pemandangan berbeda terjadi di pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari. Di tempat ini, nelayan mengalami paceklik ikan. Angin kencang dan hujan yang cukup deras di tengah laut diduga menjadi salah satu penyebab menghilangnya buruan nelayan.
“Juga diperparah abrasi. Bibir pantai yang sebelumnya landai berubah menjadi curam sehingga sulit untuk mendaratkan perahu,” kata salah seorang nelayan Baron, Marjiyanto.Dia mengungkapkan, paceklik ikan membuat kondisi perekonomian para nelayan nelangsa. Menjelang lebaran, nelayan malah banyak menganggur, sehingga tidak mendapatkan pemasukan sama sekali. “Untuk menyambung hidup, para nelayan kembali menjadi petani. “Sekarang kami memilih bertani palawija,” kata Marjiyanto. (gun/iwa)

Kulonprogo