PEMINAT menu ikan di Gunungkidul ternyata cukup besar. Setiap hari diperlukan 1,5 ton ikan untuk memenuhi minat tersebut. Namun jumlah peternak lele masih sedikit. Kalaupun ada, banyak yang gulung tikar sehingga tidak mampu memenuhi permintaan konsumen. Peternak Solo dan Klaten diuntungkan, karena dari mereka kekurangan itu dicukupi.Salah seorang peternak ikan lele yang turut menikmati legitnya uang dari ikan adalah Yusup Sunyata. Dia kewalahan memenuhi permintaan pasar. “Peluang peternak ikan lele di Gunungkidul terbuka lebar, sangat lebar,” kata Yusup Sunyata saat ditemui Radar Jogja dua hari lalu di kolam lahan keringnya wilayah Winong, Siraman, Wonosari.
Suami dari Siti Rohmiyati tersebut menceritakan masa lalunya. Modal pertama diperoleh dari pinjaman bank plecit Rp 350 ribu. Jatuh bangun sering dirasakan, dengan angan-angan dan keinginan yang besar mencoba budidaya ikan lele. Sekarang terbukti bisa merasakan imbal balik dari usaha keras itu.”Setelah dipikir dan dicermati, ternyata kunci pokok beternak lele adalah air. Pada musim kemarau pembesaran lele sulit. Tetapi kalau airnya diperhatikan jangan sampai bau dan keruh, ikan lele akan sehat,” kata ayah dari Irfando Rizhal Saputra dan Shafa Pradibta Arashel ini.Dia berharap, pengalaman menjadi peternak lele menjadi gambaran peternak lain untuk beternak dengan sunguh-sungguh. Kata Yusup, jangan mudah menyerah, karena setiap ujian dari Tuhan pasti ada hikmah.
“Saat ini, kami membuka penyuluhan bagi pemula dan menyiapkan benih lele, konsumsi, pemancingan, serta pakan lele,” katanya.
Kasi Perikanan dan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Taufan Yudianto mengatakan usaha ternak lele memiliki prospek baik. Permintaan masyarakat per hari di Pasar Argosari 2,5 kuintal hingga 3 kuintal. “Tetapi suplai dari produsen lokal belum bisa memenuhi permintaan dan terpaksa masih mendatangkan dari luar daerah,” terangnya. (*/iwa)

Kulonprogo