Ikan asin mengandung formalin masih beredar di pasar tradisional di Kulonprogo. Salah satunya di Pasar Brosot, Kecamatan Galur. Seberat 4,5 kilogram ikan kacangan, terdeteksi mengandung formalin. Keberadaan ikan berformalin itu bersamaan dengan ditemukannya empat botol minuman berkarbonasi kedaluwarsa, mi instan, dan kopi instan di sebuah toko di Pasar Brosot.
TEMUAN makanan berformalin dan kedaluwarsa itu merupakan hasil pengawasan terpadu yang dilakukan Satpol PP Kulonprogo bersama Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan, serta Kantor Pertahanan Pangan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan.
Pengawasan terpadu difokuskan di dua pasar tradisional. Pertama, petugas melakukan pengawasan di Pasar Brosot, kemudian menyisir ke Pasar Keongan, Dusun Bangeran, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah. Pengawasan terpadu kali ini merupakan non-yustisi, sehingga pedagang yang memiliki barang dagangan kedaluwarsa hanya didata dan diminta untuk tidak menjual barang dagangannya.
Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNP) Satpol PP Kulonprogo Kuncahya mengatakan, pengawasan terpadu ini dalam rangka penegakan UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU 36/2009 tentang Kesehatan, UU 18/2012 tentang Pangan, dan UU 31/2004 tentang Perikanan.
“Lokasi kami targetkan di pasar tradisional. Hasilnya, ada beberapa minuman dan makanan kedaluwarsa. Kami juga menemukan ikan asin berformalin,” kata Kuncahya (29/4).
Untuk operasi di Pasar Brosot, petugas mengamankan empat botol minuman yang sudah expired. Sedangkan mi instan dan kopi instan dikembalikan lagi mengingat barang tersebut bisa ditukar dengan yang baru. Selain itu, untuk ikan asin berformalin, petugas meminta kepada pedagang agar tidak menjualnya.
“Ini sifatnya non-yustisi. Kami hanya melakukan pengawasan, sedangkan untuk pembinaan dilakukan instansi terkait,” katanya.
Pemilik toko di Pasar Brosot, Nur Basuki, 48, mengatakan untuk barang dagangan yang kedaluwarsa bisa ditukar. Selain itu, dia juga rutin mengecek barang dagangan yang sudah expired. Namun karena sales barang belum datang, sehingga masih ada beberapa barang dagangan kedaluwarsa di tokonya.
“Kalau yang bisa ditukar, nanti ya ditukar. Kalau yang sudah kedaluwarsa, disingkirkan biar diambil sales-nya,” kata dia.
Kawiyah, 52, pemilik ikan asin berformalin menuturkan, sebelumnya saat dia membeli ikan asin kondisinya masih bagus. Seminggu lalu, dia kulakan ikan asin sebanyak lima kilogram dimana sekarang masih tersisa 4,5 kilogram. Dia juga tidak tahu ikan asin itu diprodusi di mana.
“Belinya belum lama, baru satu minggu ini. Saya lihat sih barangnya masih bagus,” ujarnya.
Selain di Pasar Brosot, petugas juga melakukan pengawasan di Pasar Keongan. Di lokasi itu, tidak ditemukan barang dagangan yang berbahaya untuk konsumen. Hanya saja, petugas menemukan makanan bubur untuk balita di salah satu toko di Pasar Keongan.
Di toko itu ada empat kotak bubur yang sudah expired sejak 25 April 2014, serta tiga kotak bubur yang masa berlakunya habis 1 Mei 2014. Kepada pegawai toko, petugas meminta agar bubur yang hampir kedaluwarsa agar disimpan agar tidak dibeli konsumen. (*/iwa)

Kulonprogo