RADAR JOGJA – Kenikmatan dalam berburu kuliner bukan hanya soal rasa. Tapi, ada pula yang menganggap perjalanan menuju lokasi kuliner sebagai subuah kenikmatan tersendiri.

Menikmati kuliner Entok Slenget Kang Tanir, kita seolah mendapatkan dua faktor tersebut. Rasa dan lokasinya yang tidak bisa dibilang dekat dari Kota Jogja.

Lokasinya warung milik Kang Tanir agak jauh dari pusat kota Jogja. Tepatnya di Jalan Pakem – Turi, Pules Lor, Donokerto, Kepanewon Turi, Kabupaten Sleman. Kurang lebih menempuh waktu 30 menit dari pusat kota. Kelezatan dan lokasi yang agak susah dijangkau menjadi sensasi tersendiri ketika ingin menikmati entok tersebut.

Warung sederhana itu menyajikan dua jenis menu saja. Yakni Entok Slenget dan Tengkleng Entok. Keduanya sama-sama menggunakan daging entok, hanya dibedakan level pedasnya saja.

Kang Tanir, sang pemilik warung tersebut mengolah daging entok dengan sedemikian rupa. Sekilas tekstur dan tampilannya mirip dengan gulai. Namun, ketika dicicipi baru terasa bedanya.

Proses memasak yang digunakan Warung Entok Slenget Kang Tanir masih sangat tradisional. Menggunakan anglo dan areng, baik itu untuk memasak air, nasi atau memasak entoknya juga.

Proses memasaknya juga dadakan, jadi bukan yang sudah dimasak dalam skala besar lalu tinggal dipanaskan. Namun, dimasak satu per satu sesuai dengan pesanan yang datang, agar masakan tetap terjaga cita rasa dan panasnya. Entok Slenget milik Kang Tanir ini simpel, tapi nikmat. Apalagi jika dibuat pedas.
Tanir mengaku mulai berjualan masakan dengan bahan baku entok sejak tahun 2007 lalu. Ia bahkan mengaku bahwa brand Entok Slenget itu ia yang menciptakan. Berawal dari eksperimen. “Dulu awalnya coba-coba, karena bingung mau jualan apa,” katanya.

Lalu dia menemukan resep Entok Slenget itu. Slenget itu sendiri menurut Tanir , diambil dari kata semlenget yang dalam bahasa Jawa bisa diartikan panas atau juga sangat pedas.

Entok Slenget Kang Tanir ini sendiri baru buka ketika memasuki pukul empat sore. Menariknya, warung itu sudah tutup beberapa jam kemudian. ”Ya karena memang sudah habis, biasanya tutup jam 7 atau 8 malam,” kata Tanir.
Kendati sudah laris dan mulai dikenal banyak orang, Tanir belum berniat untuk membuka cabang. Menurut dia, saat ini resep masakan itu hanya dia yang benar-benar menguasai. ”Nanti takutnya rasanya beda, sementara di sini saja dulu,” ujarnya.

Untuk harga, Entok Slenget Kang Tanir ini terbilang terjangkau. Untuk menu entok slenget dipatok 30 ribu rupiah satu porsi. Itu sudah termasuk nasi, lalapan, dan minum. Sementara tengklengnya lebih murah lagi, hanya 20 rupiah saja. (kur/bah)

Kuliner