RADAR JOGJA – Jajaran Polda DIJ berhasil membekuk 5 tersangka penganiayaan yang menyebabkan korban Daffa Adzin Albazith meninggal dunia. Kelimanya adalah insial RS, 18, FAS, 18, AMH, 19, MMA, 20 dan HAA, 20. Kelimanya berhasil ditangkap secara bertahap di kediamannya masing-masing mulai Sabtu (9/4).
Dalam kasus ini terungkap peran eksekutor adalah RS. Pelajar SMK di Jogjakarta ini membawa gir yang terikat pada sabuk bela diri. Saat kejadian, Minggu (3/4), RS mengayunkan gir tersebut dan mengenai kepala belakang korban. Imbasnya korban Daffa Adzin Albazith meninggal dunia usai mendapat perawatan di RSPAU Hardjolukito.
“RS ayunkan gir ukuran 21 centimeter diliitkan dengan sabuk bela diri 24 centimeter. Tersangka RS turun dari motor Nmax dan ayunkan. Motor pertama kelompok korban tidak kena, motor kedua duduk depan tidak kena karena mengelak dan kena kepala belakang korban,” jelas Dirreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi saat rilis kasus di Mapolda DIJ, Senin (11/4).
Usai mendapatkan serangan ini, korban yang membonceng temannya tersungkur di depan Kantor Kalurahan Banguntapan Bantul. Tepatnya 140 meter dari lokasi penyerangan ke arah utara. Saat itu kondisi korban kritis dan masih bernafas
“Lalu tidak berapa lama ditemukan petugas patroli Sabhara Polda DIJ, kemudian korban ditolong. Korban masih bernafas tapi tidak sadarkan diri lalu dibawa ke Hardjolukito ditangani medis tapi 09.30 korban meninggal dunia,” katanya.
Berdasarkan keterangan saksi dan pelaku, terungkap awal mula penyebab penganiayaan. Berawal saat kelompok korban bertemu dengan kelompok pelaku di kawasan Ringroad selatan. Saat itu kelompok korban sebanyak 5 motor melaju cepat di jalur cepat. Kelompok pelaku terganggu dengan suara bising motor kelompok korban.
Usai menyalip terjadi saling ketersinggungan antara dua kelompok. Kelompok korban terlebih dahulu memulai dengan kalimat tantangan, ayo rene-rene. Kalimat ini direspon dengan suara raungan kendaraan dan mengejar kelompok korban.
“Lalu kelompok korban lanjut perjalanan ke arah utara ke jalan Imogiri Barat. Mereka saling salip, saling ejek dan makian. Hingga akhirnya kelompok korban mengarah daerah Tungkak dan menuju Gedongkuning,” ujarnya.
Kelompok korban, lanjutnya, sempat menunggu dan menoleh ke arah belakang. Ternyata kelompok pelaku tidak mengikuti lagi. Setelahnya kelompok korban berhenti di sebuah warung makan di daerah jalan Gedongkuning Kotagede Kota Jogja.
Baru saja memesan makan, tiba-tiba kelompok pelaku melintas. Disertai dengan kalimat makian kepada kelompok korban. Setelahnya 4 motor kelompok korban mengejar kelompok pelaku yang melaju cepat ke arah utara.
“Kelompok pelaku dengan menggunakan Nmax dikemudikan 3 orang lalu Vario dikemudikan 2 orang, nyalip dan mengeluarkan makian. Kelompok korban merespon dengan isyarat rene-rene,” katanya.
Kelompok pelaku, lanjut Ade, berhenti 1 kilometer arah utara dari titik pertemuan dengan kelompok korban. Pelaku MMA turun dari Yamaha Nmax dan mengayunkan sarung berisi batu. Sementara pelaku RD mengayunkan gir. Para pelaku menunggu kedatangan kelompok korban yang melaju dari arah selatan.
“RS ini mengayunkan gir lalu kena kepala belakang korban. Setelah itu mereka kabur,” ujarnya.
Ade menuturkan dua pelaku masih berstatus pelajar. Tepatnya sang eksekutor RS dan FAS. Keduanya juga tercatat dalam satu geng sekolah yang sama. Sementara ketiga tersangka lain berstatus mahasiswa hingga pengangguran. Tercatat pula pernah dalam satu geng sekolah yang sama.
Setiap tersangka yang berbeda-beda. Tersangka FAS berperan sebagai joki Yamaha Nmax. Tersangka MMA membawa sarung berisikan batu dan RS membawa gir. Keduanya membonceng Yamaha Nmax. Adapula tersangka B Joki Honda Vario dan pembonceng tersangka D.
“Penangkapan pelaku waktu siang sampai malam hari secara terpisah di rumah masing-masing. Ada yang sedang baru pulang, baru main, tidur-tiduran. Penangkapan mulai Sabtu (8/4),” katanya.
Untuk menghilangkan jejak, pelaku RS menitipkan gir kepada temannya inisial R. Setelahnya oleh R dititipkan lagi ke remaja berinisial A. Dari hasil penyidikan sosok A tidak mengetahui bahwa gir adalah barang bukti penganiayaan.
Hanya saja dari kediaman A, polisi menemukan beragam senjata tajam. Meski tak terkait kasus penganiayaan, seluruhnya tetap disita. Walau begitu status R dan A masih sebatas saksi.
“Untuk penemuan senjata tajam di kediaman A masih dalami dan kembangkan,” ujarnya.
Atas aksinya ini kelima pelaku dijerat dengan pasal berlapis. Mulai dari Pasal 353 Ayat 3 KUHP tentang Penganiayaan Berat Berencana. Subsider Pasal 351 Ayat 3 tentang Penganiayaan yang Mengakibatkan Korban Meninggal Dunia.
“Pasal penganiayaan berencana ancaman 9 tahun dan penganiayaan berat ancaman 7 tahun,” tegasnya.(Dwi)

Hukum Kriminal