RADAR JOGJA – Nekat, kata ini patut disematkan kepada Mochamad Eko Nur Cahyo. Pemuda asal Tegalsari, Surabaya Jawa Timur ini nekat mencuri alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di tujuh lokasi. Beraksi di Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo dan Kota Jogja.

Aksinya berakhir saat terekam CCTV milik Dinas Perhubungan Kota Jogja. Pasca membuat laporan ke polisi, Dishub Kota Jogja dan personel Polresta Jogja menggerebek kediaman pelaku di kediamannya di Sidoarum, Godean Sleman.

“Jadi pelaku ini beraksi seorang diri mencuri APILL dan Warning Lamp di tujuh lokasi. Aksi terakhir tertangkap kamera CCTV di simpangempat Wirosaban, Umbulharjo dan depan Rumah Sakit Pratama Mergangsan,” jelas Kasatreskrim Polresta Jogja Andhyka Donny Hendrawan ditemui di Polresta Jogja, Kamis (13/1).

Terbongkarnya aksi ini berawal dari kecurigaan salah satu pegawai Dinas Perhubungan Kota Jogja, Sabtu (8/1). Berupa hilangnya seperangkat APILL di simpangempat Wirosaban. Hingga akhirnya dilakukan pengecekan, hasilnya warning lamp di Depan RS Pratama juga hilang.

Untuk menemukan pelaku, Dishub Kota Jogja melakukan pengecekan pada rekaman CCTV. Terlihat sosok pelaku tengah beraksi seorang diri. Sementara untuk mengangkut barang curian dengan menyewa jasa angkut.

“Pelaku ini ngakunya kepada pemilik rental mobil sebagai sub kontraktor Dishub Kota Jogja. Barang- barang yang sudah dicuri itu lalu dibawa pulang ke kediamannya dan sebagian sudah ada yang dijual,” katanya.

Dalam beraksi tersangka Cahyo hanya bermodalkan satu buah kunci Inggris. Barang bukti yang tersisa diantaranya sebuah mesin kontrol bantu APILL, sebuah boks APILL tiga aspek, sebuah tiang besi panjang 6 meter. Adapula satu unit warning lamp beserta kontrolnya dan beberapa tiang, lampu dan alat kontrol kelengkapan lampu APILL.

Tersangka mengaku telah beraksi di tujuh lokasi yang berbeda. Mulai dari simpang Pasar Lama Sentolo Kulonprogo, simpang Mirota Kampus jalan Godean, depan RS Pratama Kota Jogja dan simpangempat RS Wirosaban Kota Jogja. Adapula simpang Sudimoro jalan Imogiri Barat, simpangempat Turi Sleman dan simpangempat Gedongan Sleman.

“Bahwa terhadap pelaku, disangkakan 362 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Kalau motif untuk kebutuhan ekonomi dengan ditawarkan di media sosial,” ujarnya.

Kabid Lalulintas Dishub Kota Jogja Windarto menuturkan tindakan pelaku sangatlah membahayakan pengguna jalan. Ini karena APILL masih aktif dalam mengatur lalulintas. Alhasil sejumlah simpang tidak optimal dalam mengatur arus lalulintas.

“Tidak berfungsi maka berbahaya untuk keselamatan di jalan. Kalau nilai barang itu Rp 15 juta untuk satu tiang kalau baru,” katanya. (Dwi)

Hukum Kriminal