RADAR JOGJA – Puluhan remaja usia pelajar terjaring operasi kejahatan jalanan Polres Bantul. Selama sepekan terakhir, terjaring 23 pemuda berusia dibawah 20 tahun. Mirisnya sebanyak 20 pemuda masih berstatus pelajar aktif. Rentang usia antara pelajar SMP hingga usia mahasiswa.

Kapolres Bantul AKBP Ihsan menuturkan para pelajar tak hanya berasal dari Kabupaten Bantul. Adapula yang berstatus pelajar dari Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Penyidikan masih berlangsung guna menyaring para tersangka kejahatan jalanan.

“Ini merupakan hasil operasi selama sepekan. Dari 23 pemuda ini yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ada 7 orang. Lalu yang lain masih proses pemeriksaan oleh kepolisian,” jelasnya ditemui di lobi Mapolres Bantul, Senin (29/11).

Para pemuda, lanjutnya, diamankan dari enam lokasi yang berbeda. Mulai dari kawasan Pendowoharjo, Sewon, Bantul, jalan Samas, Selo, Sidomulyo, Kretek, Bantul, lalu jalan Samas, Palbapang, Bantul. Adapula di kawasan Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja, jalan Janti Timur, Banguntapan, Bantul dan ruko di Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul.

Tindakan pengamanan terhadap puluhan pemuda bukan tanpa alasan. Berawal dari laporan warga hingga terjaring saat patroli. Hingga akhirnya ada penemuan beragam jenis senjata tajam saat penggeledahan. Mulai dari pedang, clurit hingga sabuk bermata gir motor dan sebuah korek gas menyerupai pistol.

“Ini adalah para pelaku kejahatan jalanan yang selama ini meresahkan masyarakat atau yang biasa disebut klitih. Cukup miris karena sebagian besar adalah pelajar,” katanya.

Aksi teror para pemuda menyerupai kriminal jalanan. Melakukan teror dengan mempertontonkan senjata tajam kepada warga. Adapula yang melakukan pengrusakan hingga penganiayaan secara bersama-sama.

Para pemuda, lanjutnya, berkeliling jalan raya dengan mengendarai kendaraan roda dua. Mayoritas terlebih dahulu mengonsumsi minuman beralkohol hingga obat-obatan terlarang sebelum beraksi. Jam beredar antara 00.00 WIB hingga 04.00 WIB.

“Biasanya mereka nongkrong bersama-sama dan selanjutnya tercetus rencana berbuat onar. Keliling atau janjian tawuran, tapi kalau tidak jadi tawuran, aksinya secara acak di jalan,” ujarnya.

Ihsan menegaskan seluruh pelaku tetap dijerat secara hukum. Untuk kepemilikan senjata tajam dijerat dengan Pasal 2 UU Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951. Ancaman hukuman untuk pelanggar aturan ini adalah hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Bagi pelaku penganiayaan dijerat dengan Pasal 170 KUHP. Ancaman hukuman bagi pelakunya adalah penjara maksimal 6 tahun. Diversi tak berlaku karena para pelaku terbukti mengulang aksi kejahatan yang sama.

“Proses hukum tetap jalan dan kami pastikan proses penyidikan lanjut terus. Sementara ini baru 7 yang berstatus tersangka tapi tidak menutup kemungkinan bertambah,” tegasnya. (dwi)

Hukum Kriminal