RADAR JOGJA – Wakil Direktur Direktorat Tipidnarkoba Bareskrim Kombes Pol Jayadi membeberkan lamanya pengungkapan pabrik pil koplo ilegal di Jogjakarta. Tercatat 2 pabrik pil psikotropika tersebut telah beroperasi sekitar 3 tahun. Hingga akhirnya digrebek pada 27 September 2021.

Jayadi menuturkan pabrik pil psikotropika tersebut terkamuflase. Dari luar, kedua bangunan di Sonosewu Kasihan Bantul dan Gamping Sleman layaknya gudang biasa. Aktivitas juga tak ada yang mencolok dalam sehari-harinya.

“Lokasi itu seperti gudang biasa. Mereka tidak melakukan aktivitas pada saat jam-jam tertentu. Sehingga masyarakat di sekitar situ menganggap bahwa lokasi itu adalah lokasi yang tidak biasa digunakan,” jelasnya di sela-sela pemusnahan barang bukti pabrik psikotropika di Mapolda DIJ, Jumat (15/10).

Kondisi yang berbeda nampak saat memasuki bagian dalam gedung. Pada sisi dalam terdapat beragam mesin. Fungsinya untuk memproduksi obat-obatan psikotropika.

Mesin-mesin tergolong lengkap untuk pabrik farmasi ilegal. Mulai dari penyampur bahan baku hingga mesin cetak pil dan pembungkus obat. Seluruhnya tersembunyi di bangunan sisi dalam.

“Padahal kalau masuk ke dalam memanjang sampai ke belakang itu ada proses produksi. Ada peralatan-peralatan yang digunakan untuk mengolah dari bahan baku menjadi bahan jadi itulah yang disebut proses produksi,” katanya.

Dalam distribusi obat, para karyawan pabrik juga memanfaatkan waktu tertentu. Guna menghindari kecurigaan warga sekitar. Seluruh pabrik benar-benar tertutup dari sisi luar.

“Nah masyarakat tidak pernah tahu kalau di situ ada proses produksi karena aktivitasnya tidak seperti aktivitas pabrik biasa,” ujarnya.

Jayadi menuturkan untuk saat ini pihaknya masih menetapkan tiga tersangka. Walau begitu tak menutup kemungkinan bisa bertambah. Apabila penyidikan berhasil menemukan fakta dan tersangka baru.

Untuk kedua pabrik, setiap karyawan memiliki peran yang berbeda. Ada yang sebagai penanggungjawab, bagian pelaksa harian hingga pemasaran. Besaran gaji berbeda untuk setiap tanggungjawab pekerjaan.

“Gaji, dari hasil pemeriksaan kami itu kisaran antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Itu hanya untuk level di bawah,” katanya. (Dwi)

Hukum Kriminal