RADAR JOGJA – Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri memusnahkan 48.188.000 butir obat terlarang dan 8.465 kilogram bahan baku obat terlarang. Pemusnahan menggunakan alat incinerator bersuhu tinggi. Seluruh barang bukti dibakar dalam alat khusus tersebut.

Wakil Direktur Dittipidnarkoba Bareskrim Kombes Pol Jayadi menjelaskan pemusnahan terbagi di dua tempat. Lokasi pertama di Mapolda DIJ. Berupa pemusnahan simbolis oleh jajaran kepolisian dan aparat terkait.

‘”Untuk pemusnahan total di Semarang Jawa Tengah. Ini karena Jogjakarta tak punya alat pengolah limbah sehingga total pemusnahannya di Semarang Jawa Tengah,” jelasnya ditemui di Mapolda DIJ,. Jumat (15/10).

Puluhan juta pil dan ribuan ton bahan baku obat psikotropika ini disita dari dua lokasi di Jogjakarta. Lokasi pertama adalah sebuah gudang di kawasan Kapanewon Kasihan, Bantul. Lokasi kedua di Kapanewon Gamping, Sleman.

Berdasarkan penyidikan, kedua pabrik mampu memproduksi 420 juta butir dalam sebulan. Untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah wilayah di Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Selain ilegal, para peracik obat juga tak memiliki sertifikat farmasi.

“Skala produksi kedua pabrik ini sangatlah besar. Berawal dari pengembangan kasus sebelumnya hingga akhirnya terlacak lokasi pabrik asasi Jogjakarta,” katanya.

Pada awal penyidikan, polisi berhasil menangkap sekitar 10 tersangka. Sebanyak 3 tersangka berasal dari Jogjakarta. Mereka adalah JSR, 56, LSK, 49 dan WZ, 53. Perannya mengelola dua pabrik obat ilegal.

Seiring penyidikan berjalan, pihaknya berhasil menangkap 23 tersangka. Masing-masing tersangka memiliki peran beragam. Mulai dari aktor intelektual, pemasok bahan baku, produsen sekaligus penanggung jawab pabrik ilegal, distributor hingga agen.

“Nama-nama yang sempat masuk DPO sudah tertangkap. Proses penyidikan akan terus dilanjutkan. Kemungkinan juga ada beberapa tersangka yang mungkin nanti akan kita tetapkan berdasarkan alat bukti yang kita dapatkan,” ujarnya.

Kedua pabrik, lanjutnya, memproduksi beragam jenis obat psikotropika. Terutama pil Hexymer, double L dan Dextro Methorphan. Obat-obat ini merupakan jenis obat penenang. Wajib dikonsumsi dengan resep dokter.

Atas perbuatannya, para tersangka dijeratbpasal berlapis. Mulai dari Pasal 60 Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atas perubahan Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan subsider Pasal 196 dan/atau Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55 KUHP.

Mereka diancam pidana selama 15 tahun penjara dan denda Rp. 1,5 miliar subsider 10 tahun penjara. Adapula Pasal 60 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

“Untuk pasal terakhir, ancamannya hukuman penjara 15 tahun dan denda Rp 200 juta,” tegasnya. (Dwi)

Hukum Kriminal