RADAR JOGJA – Ditreskrimsus Polda Jawa Barat langsung membawa 83 karyawan perusahaan pinjaman online (pinjol) ilegal ke Jawa Barat. Langkah ini sebagai tindak lanjut olah tempat kejadian perkara (TKP), Kamis malam (14/10). Seluruhnya dibawa langsung ke Mapolda Jawa Barat, Jumat dini hari tepatnya sekitar 03.00 WIB, (15/10).

Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto menegaskan penyelidikan dan penyidikan merupakan wewenang Polda Jawa Barat. Pihaknya hanya membantu pengamanan selama proses olah TKP. Itulah mengapa seluruh karyawan beserta HRD dan manajer diboyong ke Mapolda Jawa Barat.

Sebelumnya Dirreskrimsus Polda Jawa Barat Kombespol Arif Rahman menyebutkan tengah memeriksa 86 karyawan. Terdiri dari 83 operator pinjol ilegal atau debt colector, 2 HRD dan seorang manajer. Data ini kemudian diralat bahwa total seluruhnya hanya 83 orang.

“Tadi pagi jam 03.00 WIB sudah dibawa ke Polda Jawa Barat sebanyak 83 orang beserta dengan beberapa barang bukti. Dengan menggunakan kendaraan dari Polda DIJ dan dikawal dari personel Polda DIJ dan personel Polda Jawa Barat,” jelasnya ditemui di Mapolda DIJ, Jumat (15/10).

Walau begitu pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan Polda Jawa Barat. Kaitannya adalah kemungkinan adanya korban dari Jogjakarrta. Kapolres Sleman medio 2016 ini meminta warga melapor apabila pernah menjadi korban pinjol ilegal.

Yuliyanto memastikan Polda DIJ terbuka akan laporan korban pinjol ilegal. Pihaknya juga siap memberikan konsultasi atas kasus jeratan pinjol online. Tak hanya oleh kantor pinjol di jalan Profesor Herman Yohanes, Samirono Caturtunggal Depok Sleman, tapi juga pinjol ilegal lainnya.

“Saat ini kami sedang menunggu laporan-laporan dari masyarakat yang berkaitan dengan pinjol. Silakan bisa datang ke Polda ataupun ke Polres dengan terlebih dahulu konsultasi ke piket reskrim supaya nanti bisa dengan mudah diarahkan untuk pembutan laporan polisinya,” katanya.

Dalam kesempatan ini Yuliyanto juga mengingatkan jeratan karyawan pinjol online. Dari penyeledikan sementara, mayoritas karyawan masih berusia muda. Rentang waktu kerja antara satu hingga satu bulan terakhir.

Manajemen aplikasi pinjol ilegal, lanjutnya, merekrut karyawan dengan beragam latar belakang. Tak hanya warga asli Jogjakarta adapula warga dari dari daerah lainnya. Termasuk para mahasiswa yang baru saja menyelesaikann perkuliahan di Jogjakarta.

“Yang bekerja disitu ada orang Jogja, orang Gunungkidul, ada orang dari Sumatera, ada yang dari wilayah Indonesia timur sana. Macam-macam, Sulawesi juga ada, Sumatera ada, Kalimantan ada,” ujarnya.

Yuliyanto sempat bertanya kepada salah satu karyawan. Rata-rata mengaku mendapatkan gaji standar upah minimum kerja (UMR) Jogjakarta. Tugasnya melakukan penagihan kepada para kreditur online.

“Ada yang saya tanya gajinya berapa, ada yang bilang Rp. 2,1 juta, malah ada yang belum gajian. Rekrutnya, memang ada lowongan pekerjaan untuk menagih,” katanya. (dwi)

Hukum Kriminal