RADAR JOGJA – Oknum pengurus Rumah Kasih Sayang di Dusun Purwosari, Sinduadi Mlati Sleman melakukan penganiayaan kepada anak asuhnya. Tak tanggung-tanggung, aksi keji ini berlangsung selama enam bulan. Kedua tersangka inisial LP dan IT menganiaya korbannya AL, 17, selama 6 bulan. Tepatnya dari medio Januari 2021 hingga Juli 2021.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Sleman Iptu Yunanto Kukuh Prabowo menjelaskan detil penganiayaan. Kedua tersangka, lanjutnya, melakukan penganiayaan dengan beragam benda tumpul. Mulai dari tongkat bambu, catut hingga pemborgolan tangan dan penyiraman air panas.

“Dilakukan oleh pengurus Rumah Kasih Sayang di Seman, pelaku atas nama LP dan IT. Keduanya mempunyai rumah penitipan khusus untuk anak disabilitas. Pelaku melakukan penganiayaan karena jengkel lalu membuat tindakan agar korban kapok,” jelasnya ditemui di Mapolres Sleman, Selasa (5/10).

Berdasarkan keterangan ibu korban, LA sudah dititipkan sejak 2019. Aksi penganiayaan terbongkar saat ibu korban ingin melakukan panggilan video. Sayangnya kedua tersangka selalu memiliki dalih. Mulai dari alasan pandemi Covid-19 hingga sedang belajar.

Kecurigaan ibu korban bertambah saat muncul di kolom komentar akun Facebook miliknya. Tepatnya pada unggahan foto anaknya. Ada seorang mantan karyawan Rumah Kasih Sayang yang menulis komentar. Agar sang ibu segera menjemput anaknya dari Rumah Kasih Sayang tersebut.

“Ibu korban minta video call tidak pernah di-ACC. Lalu posting foto korban di Facebook. Ada salah satu dari pengurus dari Rumah Kasih Sayang yang dipecat menulis komentar kalau bisa anaknya diambil saja bu,” katanya.

Dua fakta ini membuat ibu AL semakin curiga. Alhasil dia datang langsung dari Lampung ke Sleman untuk menjemput anaknya awal Juni 2021. Kecurigaan terbukti setelah dia bertemu anaknya. Beragam luka fisik hingga psikis dialami oleh LA.

Ibu korban, lanjutnya, langsung melaporkan kejadian penganiayaan ke Unit PPA Satreskrim Polres Sleman. Korban juga langsung mendapatkan tindakan medis maupun psikis. Setelahnya korban langsung dibawa pulang ke Lampung oleh orangtuanya.

“Keadaan anak tertekan karena banyaknya siksaan dari pengasuh. Langsung dilaporkan ke PPA Polres Sleman,” ujarnya.

Dari pengakuan korban terungkap aksi kejam kedua tersangka. AL diborgol di depan tiang setiap malamnya. Kedua tersangka juga menyiramkan air panas dari teko. Tak berhenti, adapula aksi pemukulan dengan tongkat bambu. Bahkan kedua tersangka juga tega menyulut kemaluan korban pakai api.

AL mengaku mendapatkan penganiayaan selama 6 bulan. Tepatnya dari Januari 2021 hingga Juli 2021. Rentang waktu ini membuat korban mengalami trauma yang hebat. Terlihat pula luka melepuh dan mengelupas di punggung korban akibat siraman air panas.

“Korban mengaku setiap malam diborgol didepan tiang, disiram air panas, dipukul pakai tongkat sampai disulut kemaluannya pakai api. Penganiayaan berlangsung sekitar 6 bulan. Kulit korban menngelupas karena disiram air panas,” katanya.

Pasca terbongkarnya aksi keji, Polres Sleman bersama Dinas Sosial Sleman melakukan pengecekan. Hasilnya terungkap bahwa Rumah Kasih Sayang tidak mempunyai ijin. Sehingga rumah penitipan anak disablitas ini resmi ditutup oleh Dinas Sosial dan Polres Sleman.

Dari hasil pemeriksaan, kedua instansi memastikan Rumah Kasih Sayang tidaklah layak. Tercatat ada 17 penghuni dengan disabilitas di rumah tersebut. Hingga kini seluruh anak telah dititipkan ke Balai Antasena Magelang Jawa Tengah.

“Korban lain ada penganiayan akan tetapi yang bersangkutan tidak membuat laporan lalu dibawa pulang orangtuanya. Baru 2 orang ini yang mendapatkan tindakan kekerasan berdasarkan penyidikan,” ujarnya.

Atas tindakan ini kedua tersangka dijerat Pasal 88 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2001 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 351 KUHP. Ancaman hukuman untuk kedua tersangka adalah penjara 3 tahun dan 2 tahun 8 bulan untuk masing-masing pasal.

“Masih kami dalami apakah ada penyelewengan dana donasi. Mengingat rumah ini memang mengandalkan donatur,” katanya. (dwi)

Hukum Kriminal