RADAR JOGJA – Berada di dalam jeruji besi tak membuat T.H alias Tomi menghentikan aksi kriminalitasnya. Terbukti bermodalkan gawai, dia berhasil menipu korban berinisial T. Tak tanggung-tanggung, kepada korbannya, dia memesan 52 batang Kayu Sonokeling. Total kerugian korban mencapai Rp 53,3 juta.

Guna mengelabuhi korban, T.H mengaku bekerja di PT. Manggala Tama Sini Perkasa. Pemesanan guna mencarikan kayu untuk disetor ke pabrik. Tersangka yang merupakan teman lama, membuat korban tak curiga. Hingga akhirnya korban mengirimkan kayu ke alamat di Menganti Gresik Jawa Timur.

“Jadi penipuan melalui media elektronik. Korban mengirim 3,5 kubik kayu sonokeling. Tersangka memesan kayu melalui aplikasi WhatsApp. Diminta kirim ke wilayah Jawa Timur,” jelas Kanit V Satreskrim Polres Sleman Iptu Apfryyadi Pratama ditemui di Mapolres Sleman, Selasa (5/10).

Apfryyadi menuturkan korban pada awalnya memang tak percaya begitu saja. Terbukti sebelum transaksi, korban meminta untuk melakukan panggilan video. Guna memastikan bahwa sosok pembeli memang ada. Oleh tersangka, permintaan ini dituruti dan menunjukan wajahnya.

Pasca inilah korban sepakat untuk mengirimkan kayu ke alamat tertuju. Tersangka juga memiliki strategi yang jitu. Untuk meyakinkan korban, tersangka juga mengirimkan sejumlah bukti transfer. Berupa struk pembayaran melalui ATM BNI, BRI dan Mandiri.

“Namun ternyata ditunggu sampai besok, uang tak kunjung masuk. Terungkap ternyata struk transfer itu palsu,” katanya.

Pasca mendapatkan laporan, Satreskrim Polres Sleman langsung bergerak cepat. Setelah melakukan pelacakan keberadaan tersangka berhasil terungkap. Uniknya tersangka masih menghuni jeruji rutan di kawasan Magetan Jawa Timur.

Sayangnya Apfryyadi tak ingin membahas terkait penggunaan gawai di dalam rutan. Diketahui bahwa penggunaan gawai di dalam jeruji besi sangatlah terlarang. Terlebih penggunaan gawai tersebut bertujuan untuk tindakan kriminalitas. Dia juga enggan menyebut nama rutan tersebut.

“Dari dalam rutan mungkin pintarnya dia melakukan aksi dari balik rutan sehingga berhasil menipu beberapa korban. Kasus sebelumnya penggelapan mobil. Kami tangkap saat akan bebas, koordinasi dengan petugas rutan kemudian kami tangkap saat akan bebas,” ujarnya.

Penyidikan terhadap kasus tak berhenti di korban T. Apfryyadi memastikan tetap ada penyidikan lebih dalam terkait aksi tersangka. Terutama untuk membongkar aksi lainnya. Terbukti aksi serupa juga ditemukan di wilayah hukum Polres Kulonprogo. Modus yang digunakan juga sama.

Atas aksinya ini tersangka T.H dijerat dengan pasal berlapis. Pertama adalah Pasal 378 KUHP tentang penipuan,. Adapula Pasal 45 A Ayat (1) junto Pasal 28 Ayat (1) Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI BNomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Ancaman hukuman untuk tersangka hukuman penjara paling lama 4 tahun,” katanya. (dwi)

Hukum Kriminal