RADAR JOGJA – Pelaku pembunuhan Ditariyana Listia Pramesti (DLP), 21, warga Ceper, Klaten Jawa tengah akhirnya terungkap. Sosok pelaku adalah teman dekat korban berinisial RMD alias Romadi, 21.

Aksi pembunuhan terbongkar pasca penemuan jenasah korban di Dusun Ngemplak Asem, Umbulmartani, Kapanewon Ngemplak Sleman, Jumat (16/7).

Guna menghilangkan jejak, pria asal Jogonalan Klaten Jawa Tengah ini kabur hingga Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Hingga akhirnya terlacak oleh penyidik Satreskrim Polres Sleman. Pelaku berhasil ditangkap Rabu (18/8).

“Tersangka kami temukan di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bekerjasama dengan Polres Kukar dan Polsek di sana. Dia mencoba bersembunyi dengan berusaha bekerja di salah satu perkebunan sawit di Tenggarong tersebut,” jelas Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda DIJ Kombespol Burkan Rudi Satria ditemui di Mapolres Sleman, Selasa (24/8).

Dari hasil penyidikan, terungkap sejumlah motif pembunuhan. Berawal adanya hubungan spesial antara korban dan tersangka. Sebelum terjadi pembunuhan, keduanya sempat jalan-jalan bersama, siang harinya (16/7).

Sore harinya, korban sempat menanyakan status hubungan mereka. Terlebih keduanya sempat berhubungan layaknya suami istri hingga 2 kali. Disatu sisi baik pelaku maupun korban telah memiliki pasangan masing-masing.

Tak terhenti sampai disini, korban sempat meminjam uang sebesar Rp 1 juta. Sayangnya pelaku tidak langsung mengiyakan. Terlebih korban masih menyisakan utang sejumlah Rp 7 juta.

“Korban pernah mengancam nanti kalau enggak mau minjemin entah apa itu nanti akan dilaporkan ke polisi karena sudah melakukan pelecehan. Dia (korban) merasa dilecehkan seksual,” kata Kombespol Burkan Rudi Satria.

Kalap, RMD bertindak nekat. Jengah dengan suara dan desakan korban, RMD langsung mengambil batako. Bongkahan batu semen tersebut langsung dihantamkan ke kepala korban. Seketika korban jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.

Melihat korban masih bernafas, RMD langsung menyeretnya ke semak kebun. Tersangka kembali menghantamkan bongkahan batako ke kepala korban sebanyak 3 kali. Hingga akhirnya bongkahan ini pecah menjadi dua bagian.

“Pelaku juga mengaku merasa sakit hati dengan si korban. Kemungkinan meninggal di tempat pada saat kejadian itu tapi malamnya di tengok lagi tapi kemudian hari berikutnya baru dikubur sama si pelaku,” ujar Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda DIJ Kombespol Burkan Rudi Satria.

Selang dua hari (18/7), RMD kembali mendatangi lokasi pembunuhan. Tujuannya untuk menguburkan tubuh korban di tengah kebun. Tersangka sempat meminjam cangkul dan pacul dari warga sekitar untuk menguburkan tubuh korban.

Sepekan berjalan, warga Ngemplak dihebohkan penemuan jenasah perempuan misterius. Mendengar informasi ini, RMD langsung melarikan diri ke Kutai Kartanegara. Hingga akhirnya menyamar sebagai pegawai perusahaan sawit di lokasi pelarian.

“Pasal yang kami kenakan berlapis dari Pasal 340 KUHP, Pasal 338 KUHP dan Pasal 365 KUHP. Ada pasal 365 karena kendaraan korban dirampas lalu ditukar kendaraan lain. Uangnya juga dipakai untuk ongkos melarikan diri,” kata Kombespol Burkan Rudi Satria.

Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Deni Irwansyah menambahkan detail kasus. Dari hasil penyidikan, korban sempat kabur dari rumah. Bahkan sempat dicari oleh anggota keluarganya di Klaten Jawa Tengah.

Pertemuan korban dengan tersangka telah direncanakan. Diawali dengan kedatangan korban ke kediaman tersangka. Setelah bertemu keduanya sepakat untuk jalan-jalan. Hingga akhirnya peristiwa pembunuhan terjadi.

“Korban sifatnya memaksa kepada si pelaku untuk memberikan uang tetapi tidak direspon. Pelaku kesal, karena sepanjang jalan itu saja yang dibahas saja oleh korban. Puncaknya penganiayaan setibanya di TKP,” ujar AKP Deni Irwansyah.

Dari hasil penyidikan, terungkap korban dan tersangka adalah teman lama. Pernah duduk di bangku SMP yang sama di Klaten. Sementara korban sudah memiliki tunangan yang ada di Klaten.

“Informasi dari pelaku bahwa korban pada awalnya meninggalkan rumah terlebih dahulu dari Klaten. Pelaku ini didatangi oleh korban. Apakah ada komunikasi sebelumnya ini belum kami dapatkan karena memang alat komunikasi sudah tidak ada. Sudah dijual,” ujar Kasatreskrim Polres Sleman, AKP Deni Irwansyah .(dwi/sky)

Hukum Kriminal