RADAR JOGJA – Merasa pemasukannya tak cukup untuk keseharian, AP nekat berjualan sabu-sabu. Profesi ini telah dia lakoni selama dua bulan.  Hingga akhirnya berhasil ditangkap jajaran Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jogjakarta. Dari tangannya berhasil disita 49,56 gram sabu-sabu.

Pria berusia, 40, ini mengaku pendapatannya sangatlah minim. Profesi sebagai supir truk antar pulau tak bisa menutupi kebutuhannya. Hingga akhirnya dia memilih untuk berjualan sabu.

“Enggak ada kerjaan, hariannya supir. Sepi pemasukan sehari-hari. Baru jualan sabu sejak 2 bulan ini. Kalau pakai sudah dari 2012,” jelasnya ditemui Kantor BNNP Jogjakarta, Rabu (4/8).

AP berhasil diamankan penyidik BNNP Jogjakarta, Senin (2/8). Dari hasil penyidikan, sasaran pembeli adalah sesama supir truk. Khususnya yang melayani trayek Jawa – Sumatera.

“Tidak terdampak pandemi, biasa saja cuma pingin saja jualan. Awalnya untuk dipakai saja tapi akhirnya tertarik jualan,” katanya.

Penangkapan AP telah melalui pengintaian yang cukup lama. Berupa adanya alur transaksi narkotika jenis sabu di Jogjakarta. Berupa penjualan dengan paket kecil antara 0,5 gram hingga 1 gram.

Pelaksana Tugas (Plt) Kasi Intel BNNP Jogjakarta Dian Bimo menuturkan tertangkapnya AP juga berawal dari penyidikan kasus lainnya. Berupa penangkapan tersangka pemilik ganja berinisial RD. Dari tangannya berhasil disita ganja kering seberat 85 gram.

“Tersangka ditangkap berdasarkan pengembangan kasus sebelumnya di Pandowoharjo Sleman, pertengahan Juli. Dari tersangka berinisial RD mengarah ke tersangka AP,” ujarnya.

Tersangka AP ditangkap di rumahnya, tepatnya wilayah Kapanewon Tempel, Sleman, Senin sore (2/7). Berlanjut dengan penggeledahan di sejumlah ruangan rumah. Hingga akhirnya ditemukan sabu seberat 49,56 gram di lemari pakaian dan dapur rumah.

Sabu sudah dikemas dalam ukuran sedang, 5 gram. Terdapat 8 paket ganja yang disimpan di dua lokasi tersebut. Seluruhnya telah siap edar di wilayah Jogjakarta.

“Hasil penyidikan pembelinya adalah supir truk lintas Sumatera-Jawa. Sistemnya adu banteng atau ketemuan. Kadang janjian dimana atau di rumah tersangka,” katanya.

Kepada penyidik BNNP, AP mengaku mendapatkan ganja dari kawasan Temanggung Jawa Tengah. Transaksi terakhir sejumlah 60 gram sabu, Minggu (1/8). Kini pihaknya tengah melacak pembeli maupun pemasok.

“Selain barang bukti narkotika, kami juga mengamankan timbangan digital, alat hisap sabu, pipet kaca dan lain lain. Jadi selain menjual juga dipakai sendiri,” ujarnya.

Atas perbuatannya ini AP dijerat dengan Pasal 132 ayat (1) junto Pasal 114 ayat (2) atau pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman maksimal adalah 20 tahun penjara.

“Bisa jadi ancaman hukuman maksimal karena dia ini residivis kasus yang sama tahun 2012. Saat itu yang menangani Polda DIJ,” tegasnya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal