RADAR JOGJA – Ditreskrimum Polda DIJ berhasil membongkar jaringan arisan online. Berawal dari laporan para korban yang mengalami kerugian hingga angka miliaran rupiah. Modusnya cukup sederhana yaitu menjanjikan keuntungan berkali-kali lipat dari arisan tersebut.

Sosok NW berhasil diamankan oleh penyidik Ditreskrimum Polda DIJ. Perannya sebagai bandar atau operator arisan online. Dari keterangan pemeriksaan, arisan berlangsung dari September 2020 hingga Januari 2021.

“Kalau pesertanya itu tidak hanya dari Jogja. Ada dari NTB ada yang dari Denpasar ada yang dari Jakarta ada yang dari Surabaya. Luas karena sistem penawarannya melalui grup WhatsApp,” jelas Ditreskrimum Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudi Satria ditemui di Mapolda DIJ, Rabu (30/6).

Uniknya antar peserta arisan tidak saling mengenal. Inilah yang menjadi modus bagi NW dalam beraksi. Dengan melibatkan beberapa rekannya dalam kelompok arisan yang sama.

Agar tergiur, setiap peserta arisan dijanjikan sistem slot. Sehingga peserta arisan bisa mengambil terlebih dahulu urutan. Semakin ke belakang maka persentase keuntungan lebih besar. Ini karena ada tawaran keuntungan hingga 30 persen.

“Artinya nanti dibagi slot siapa yang ngambil duluan siapa yang belakangan, yang mau di belakangan bisa mendapatkan keuntungan lebih,” katanya.

Para korban, lanjutnya, terbujuk ucapan NW. Alhasil peserta arisan menyetor dengan nominal beragam. Mulai dari Rp 1 juta, Rp 10 juta, Rp 20 juta bahkan Rp 100 juta dan Rp 200 juta. Selain uang, arisan juga berupa motor hingga mobil.

“Dalam perjalanannya ketika penarikan pertama itu semuanya tertib, tapi kemudian di belakang hari peserta-peserta ini ternyata ada yang tidak tertib. Begitu mendapatkan arisan di slot 1,2 dan 3 tidak membayar. Sehingga orang-orang lain yang pesertanya di slot 6, 7, 8, 9, 10 itu tidak terbayarkan. Nah akhirnya ini macet,” ujarnya.

Akal bulus pelaku masih berlanjut meski telah meraup untung. Caranya dengan membuka slot arisan yang baru. Kemudian mengganti peserta di slot 1, 2 dan 3 dengan nomor gawai yang berbeda. Hanya saja sosok di belakangnya tetap sama dengan slot arisan yang lama.

Modus yang sama kembali terulang dalam slot arisan baru ini. Setelah diatas slot ketiga, pembayaran mulai tak lancar. Peserta arisan yang menerima di slot awal juga menghilang.

“Orang-orang yang tadinya sudah terblacklist karena tidak membayar seakan diganti sama orang lain sehingga peserta lain ya ikut lagi. Mereka ini joki, ya orang-orang yangmacet bayarnya dan itu sudha diatur sedemikian hingga bergulir terus-menerus,” katanya.

Imbas dari arisan ini, para peserta mengalami kerugian diatas Rp 5 Miliar. Uang arisan yang menjadi anggunan dibawa kabur oleh bandar dan komplotannya. Hingga akhirnya para korban sepakat untuk melaporkan ke kepolisian.

“Ada di laporan polisi kami terima 16 laporan polisi tapi sebenarnya korbannya lebih dari itu, cuma sementara statusnya sebagai saksi. Dijerat dengan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan dilapisi penggelapan uang,” ujarnya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal