RADAR JOGJA – Hasil pemeriksaan kesehatan pria misterius berinisial K berasal dari Tuban, Jawa Timur, penyerang Mapolresta Jogja sudah terjawab. RS Bhayangkara Polda DIJĀ  menyatakan adanya gangguan kejiwaan.

Pasca pemeriksaan kesehatan, Satreskrim Polresta Jogja melacak identitas. Metode pelacakan menggunakan sidik jari.

Hingga akhirnya didapatkan identitas secara lengkap. Mulai dari alamat dan nomor kontan pihak keluarga.

“Alamat terlacak berkat sistem sidik jari, lalu ditemukan dengan sistem inafis. Setelahnya ditemukan (alamat) keluarganya.

Malam harinya (8/6) sudah kesini setelah dihubungi,” jelas Kasubag Humas Polresta Jogja AKP Timbul Sasana Raharjo ditemui di Mapolresta Jogja, Kamis (10/6).

Diamankannya K ternyata menjadi berkah bagi keluarga. Ini karena pria berusia, 40, ini telah menghilang sejak 6 tahun lalu.

Pihak keluarga sempat pasrah dalam mencari keberadaan K. Fakta ini terungkap saat pihak keluarga bercerita tentang latar belakang identitas K.

Telah menderita gangguan kejiwaan cukup lama. Saat menghilang, K tidak meninggalkan pesan apapun kepada keluarganya.

“Kejadian kemarin ada hikmahnya, keluarga itu sudah mencari selama 6 tahun tapi enggak ketemu. Saat ini sudah dibawa pulang, dari kemarin sore (9/6) sudah dibawa pulang ke Jawa Timur,” katanya.

Sosok K sendiri sempat membuat heboh Mapolresta Jogja. Sambil membawa senjata tajam jenis golok, pria ini memaki dan mengancam personel Polresta Jogja.

Aksi nekat ini berlangsung di pintu gerbang sisi timur Polresta Jogja. Saat diperingatkan, K justru semakin menjadi-jadi.

Bahkan golok miliknya disabetkan ke pintu gerbang Polresta Jogja. Hingga akhirnya dilumpuhkan tak jauh dari pintu gerbang Polresta Jogja sisi barat.

“Hasil pemeriksaan di RS Bhayangkara alami gangguan jiwa atau gangguan mental. Info dari keluarganya langsung dibawa ke RS Menur itu rumah sakit jiwa di Surabaya,” ujarnya.

Selama menjalani pemeriksaan, K, lanjutnya, merespon dengan cukup baik. Hanya saja tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan cukup jelas.

Sosok K juga lebih kerap diam merenung selama diamankan di Polresta Jogja. “Diajak komunikasi bisa tapi ya kadang-kadang agak meracau.

Kalau untuk kasusnya tidak kami kenakan Pasal apapun. Ya karena kejiwaannya terganggu,” katanya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal