RADAR JOGJA – Sebanyak 10 komplotan pelaku pembunuhan Dicky Wijayako berhasil dibengkuk, Jajaran Satreskrim Polresta Jogja. Seluruh pelaku mengeroyok korban di jalan Amri Yahya, Wirobrajan Kota Jogja, Kamis dini hari (3/6).

Kasatreskrim Polresta Jogja, Kompol Riko Sanjaya menuturkan para tersangka ditangkap dalam rentang waktu berbeda. Tersangka pertama atas nama inisial T alias Tebo ditangkap Sabtu (4/6). Menyusul kemudian tersangka inisial BAS alias Ndobleh selang sehari kemudian (5/6).

“Tersangka pertama Tebo ditangkap di Jetis Kota Jogja lalu tersangka Ndobleh ditangkap di Patran Jalan Godean. Keduanya juga dilumpuhkan karena melawan saat ingin ditangkap,” jelasnya ditemui di Mapolresta Jogja, Selasa (8/6).

Pasca penangkapan kedua tersangka, satu persatu tersangka lainnya menyerahkan diri. Mereka adalah MNS alias Joko, SYT alias Pace, SHBS alias Si Y, PIS alias Ican, BL alias Ujang dan CPJ alias Pintot. Mereka menyerahkan diri diantar oleh keluarga masing-masing.

Walau begitu dua tersangka utama, KAR alias Kholis dan SI alias Gonteng sempat melarikan diri. Keduanya sempat kabur ke Purbalingga Jawa Tengah. Lalu tersangka Gonteng lanjut kabur ke Jakarta.

“Kedua otak penusukan itu lari ke Purbalingga, karena tersangka inisial KAR (Kholis) ada teman disana. Lalu inisial SI (Gonteng) lanjut ke Jakarta. Tapi keduanya akhirnya menyerahkan diri setelah tahu seluruh temannya juga menyerahkan diri,” katanya.

Kedua otak penusukan merupakan tersangka utama penganiayaan. Tersangka Kholis menyayatkan pisau lipat ke tangan korban. Pisau juga ditusukan ke tubuh bagian perut samping kiri sebanyak satu kali. Selain itu juga menusuk punggung korban sebanyak tiga kali.

Tersangka Gonteng juga menusukan pisau dapur ke tubuh korban. Tepatnya kearah tubuh belakang korban. Tusukan inilah yang membuat korban Dicky jatuh tersungkur.

“Korban meninggal dunia ditempat. Sudah diotopsi, hasilnya belum keluar secara resmi tapi dari penyampaian awal yang menyebabkan meninggal itu tusukan mengenai paru-paru. Tembus kena paru dan sangat mematikan,” ujarnya.

Para pelaku, lanjutnya, melakukan aksi kekerasan dalam keadaan sadar. Seluruhnya mengaku tidak mengonsumsi minuman beralkohol maupun narkotika sebelum kejadian. Bahkan kesepuluhnya telah merencanakan penganiayaan sebelum bertemu rombongan korban.

Hasil penyidikan, kunci permasalahan berada di tersangka Gonteng dan saksi Tofa. Kedua orang ini sempat berkelahi di kawasan Tirtonirmolo Kasihan Bantul, Rabu malam (2/6). Lalu saksi meminta tolong korban Dicky menjadi penengah masalah.

“Masalahnya tersangka menegur anak saksi, sempat ribut dan berkelahi namun dilerai. Malamnya ingin diselesaikan, ternyata terjadilah pembunuhan itu. Posisi korban itu mau menengahi masalah,” katanya.

Atas kejadian ini kesepuluh tersangka diganjar pasal berlapis. Berupa Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Dijerat pula denganĀ  Pasal 170 ayat (2) ke 3e KUHP. Ancaman hukuman dalam pasal ini adalah 12 tahun penjara.

“Mereka ini dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain atau secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang dimuka umum yang menyebabkan matinya orang,” tegasnya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal