RADAR JOGJA – Jajaran penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIJ berhasil membongkar aksi penipuan online. Tak hanya satu tapi dua kasus sekaligus. Kasus pertama adalah jual beli bahan pokok pangan, lalu kasus kedua adalah penjualan sepeda kayuh.

Kasus pertama dilakoni oleh tersangka MA. Pria berusia, 39, ini menawarkan beragam kebutuhan pokok dengan harga miring. Bahan pangan tersebut ditawarkan melalui market place Facebook dengan nama akun Hasan Ali.

“Menawarkan sembako dengan harga miring. Ada beras basmati, kurma dan lainnya. Postingan ini direspon salah satu korban bernama Aminah. Membeli 10 sak beras basmati,” jelas Wadirreskrimsus Polda DIJ AKBP F.X Endriadi ditemui di lobi Gedung Ditreskrimsus Polda DIJ, Rabu (14/4).

Pasca komunikasi, korban langsung mentransfer sejumlah uang. Guna pembayaran 10 sak beras basmati secara tunai. Sayangnya hingga batas waktu pengiriman, beras basmati tak kunjung dikirim.

Perwira menengah 2 melati ini menuturkan modus pelaku adalah harga murah. Seluruh bahan pokok ditawarkan dengan harga murah. Bahkan lebih murah dibandingkan harga pasaran pada umumnya.

“Korban langsung transfer karena harganya murah. Tapi hingga batas waktu ternyata barang tersebut tidak dikirim,” katanya.

Pihaknya juga masih mendalami kasus lainnya. Hasil penyidikan terungkap aksi MA tak hanya sekali. Kejahatan serupa telah dijalani sejak 2020.

“Kegiatan penipuan online sudah sejak 2020 bahkan sampai diluar pulau. Tercatat ada kasus di Banten, Jawa Timur bahkan Pekanbaru. Sudah mempunyai keuntungan sebesar Rp. 500 juta,” ujarnya.

Kasus kedua adalah penipuan penjualan sepeda kayuh. Pelakunya adalah pria bernama JU. Pria berusia, 27, ini menawarkan sepeda Polygon Strattos dengan harga miring. Korbannya bernama Raditya Agung Setyo.

Modusnya korban mencari sepeda kayuh di media sosial. Sekejap kemudian tersangka menawarkan barang yang dicari, Polygon Strattos. Hingga akhirnya disepakati sejumlah harga dan pembayaran melalui transfer bank.

“Uang sudah ditransfer tapi barang tidak dikirim. Kami selidiki lewat akun dan menangkap tersangka di Bali. Saat ini berkas penyidikan dan perkara sudah kami kirim ke kejaksaan,” katanya.

Atas aksinya ini kedua tersangka dijerat dengan pasal yang sama. Imbas dari aksi penipuan sosial. Tepatnya Pasal 45 Ayat (1) Junto Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Dari pasal ini mendapatkan ancaman 6 tahun dan denda Rp. 1 Miliar,” tegasnya. (dwi/sky)

Hukum Kriminal