RADAR JOGJA -Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda DIJ berhasil meringkus dua pria yang menjual satwa dilindungi, yakni kasus pertama adalah penjualan Binturong di Gunungkidul. Kasus kedua adalah penjualan Elang Brontok di Pasar Satwa  dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty).

Kedua pelaku ini ditangkap dengan kasus berbeda namun modusnya sama, yakni menawarkan satwa dilindungi melalui media online.

Tersangka penjual Binturong bernama Jihan Rintoko. Penangkapan pelaku berawal dari patroli siber Ditreskrimsus Polda DIJ.

“Saat patroli siber menemukan adanya upaya penjualan satwa dilindungi jenis Binturong. Kemudian kami lakukan undercover buy atau transaksi dengan penjual tersebut. Akhirnya berhasil menangkap beserta barang bukti di daerah Purwosari Gunungkidul,” jelas Wadirreskrimsus Polda DIJ AKBP F.X Endriadi, Rabu (14/4).

Sebelum melakukan transaksi, tim Ditreskrimsus Polda DIJ terlebih dahulu koordinasi dengan BKSDA. Kaitannya memastikan satwa tersebut dilindungi. Hingga akhirnya diputuskan melakukan penangkapan terhadap penjual satwa Binturong.

Pasca penangkapan, terungkap tersangka memang menjual jenis satwa tertentu. Hasil penyidikan, tersangka ingin menukar Binturong dengan ayam hias. Belum kesampaian, sudah ditangkap oleh penyidik Ditreskrimsus Polda DIJ.

“Pengakuan tersangka baru satu kali. Binturong ini rencana dijual dengan harga Rp. 5,5 Juta,” katanya.

Tak hanya Binturong, Subdit 4 tindak pidana tertentu (Tipiter) Ditreskrimsus juga berhasil mengamankan penjual elang brontok. Proses transaksional melalui media online. Metode pembayaran menggunakan cash on delivery atau COD.

Perwira menengah 2 melati ini berhasil memancing penjual elang brontok bernama Muhammad Roihan Afif Erdin. Untuk melakukan transaksi metode COD di Pasty. Alhasil tersangka berhasil ditangkap bersama barang bukti burung elang brontok.

“Setelah negosiasi harga kami lakukan cash on delivery di pasar Pasty. Tapi dia tidak punya lapak disana, hanya nebeng transaksi. Elang itu dijual seharga Rp. 850 ribu,” ujarnya.

Atas aksinya ini, kedua tersangka dijerat dengan pasal yang sama. Tepatnya Pasal 40 Ayat (2) Junto Pasal 21 Ayat (2) huruf A Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990. Berbicara tentang konservasi sumber daya alam hayati.

“Terancam hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Karena Binturong dan elang brontok memang tergolong sebagai satwa dilindungi,” tegasnya. (dwi/sky)

Hukum Kriminal