RADAR JOGJA – Aksi nekat dilakoni seorang penanggungjawab lapangan proyek Kereta Rel Listrik (KRL) Jogjakarta-Solo bernama Mikhael Theofilus Simbolon. Oknum karyawan PT. Nuansa Avanindo ini menggelapkan 2 rol kabel tembaga 20 kv. Satu rol kabel telah dijual seharga Rp. 82,5 juta.

Kapolsek Kalasan Kompol Sumantri menuturkan, aksi kejahatan telah terencana matang. Berawal dari unggahan tersangka di media sosial Facebook, Selasa (9/3). Kala itu Michael mengunggah penjualan kabel tembaga sepanjang 20 meter.

“Unggahan ini mendapat respon dari seseorang bernama Gunawan dari Boyolali. Saat itu menanyakan harga dan lokasinya, kemudian pelaku memberitahu harganya Rp. 400 ribu permeter dan lokasinya di Stasiun Kalasan Sleman,” jelasnya ditemui di Mapolsek Kalasan, Rabu (31/3).

Dalam komunikasi tersebut, Michael menuturkan, bahwa kabel sepanjang 20 kv  yang dia tawarkan milik PT. Nuansa Vanindo sebanyak 2 rol. Setiap rol memiliki kabel sepanjang 300 meter.

Pada awalnya tersangka menawarkan harga Rp. 400 ribu/meter. Oleh pembeli atau Gunawan ditawar menjadi Rp. 250 ribu/meter. Akhirnya disepakati harga jual menjadi Rp. 275 ribu/meternya.

“Perjanjian awal diambil 1 rol dahulu. Lalu Rabu (17/3) sekitar jam 18.30 WIB pembeli datang membawa truk Towing dengan maksud mengambil 1 rol kabel tembaga. Tersangka juga sempat memberikan surat jalan. Setelah pembeli membayar Rp 82,5 juta,” katanya.

Komunikasi berlanjut selang beberapa hari kemudian, Selasa (23/3). Pembeli kembali bertemu dengan tersangka Michael. Tujuannya untuk membeli 1 rol kabel tembaga dengan harga yang sama.

Pada awalnya tersangka tak langsung mengiyakan. Hingga akhirnya sepakat untuk menjual di hari berikutnya, Rabu (24/3). Aksi kali ini sempat dicurigai oleh Direktur PT. Nuansa Vanindo.

“Direkturnya mengirim foto saat kabel diangkut pakai truk towing. Tapi tersangka diminta mengecek keberadaan 2 rol kabel. Dijawab masih ada dan direkturnya percaya,” ujarnya.

Guna mengaburkan aksinya, Michael sempat mengajak sejumlah karyawan PT. Nuansa Vanindo berburu kuliner di dekat Stasiun Kalasan. Selanjutnya tersangka berpura-pura mengecek kabel. Aksi ini untuk menyakinkan para karyawan bahwa kabel tak berpindah tempat.

Saat kembali, tersangka mengatakan bahwa kabel telah hilang. Lalu memutuskan untuk melaporkan ke Polsek Kalasan. Sempat tak tenang, tersangka akhirnya mengaku telah menjual kabel tembaga tersebut.

“Dari hasil penyidikan dan pengakuan tersangka akhirnya tersangka kami amankan Sabtu sore (28/3). Tersangka mengakui telah menjual kabel tersebut untuk kepentingan pribadi,” katanya.

Dari hasil penjualan, tersangka sempat berbelanja untuk kepentingan pribadi, diantaranya gawai merk Huawei berbagai jenis. Adapula sepatu, rompi airsoftgun, helm airsoftgun, tas pinggang taktikal dan tas ransel loreng. Adapula DSLR Canon EOS 1500D, DSLR Nikon D3100 dan sejumlah gawai lainnya.

“Juga masih ada sisa uang tunai sebesar Rp. 42 juta dan kabel tembaga yang sudah terkupas seberat sekitar 700 kilogram. Kalau pasal kami jerat dengan Pasal 363 KUHP dan Pasal 374 KUHP,” tegasnya.

Tertunduk malu, Michael mengaku terpaksa melakoni aksi tersebut. Dia beralasan terpepet kebutuhan sehari-hari. Selain untuk kebutuhan personal juga untuk membayar hutang.

Guna meyakinkan pembeli, Michael mengaku sebagai penanggungjawab lapangan. Perannya sebagai pengawas proyek yang dikerjakan oleh PT. Nuansa Vanindo. Saat bertemu pembeli, Michael juga berdandan rapi layaknya seorang penanggungjawab proyek. “Untuk kebutuhan sehari-hari lalu bayar utang orangtua,” katanya singkat.(dwi/sky)

Hukum Kriminal