Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DIJ berhasil mengamankan seorang petani ganja. Sosok ini adalah mahasiswa tingkat akhir berinisial YES atau Erik. Diamankan dari kediaman kosnya di Kalurahan Maguwoharjo, Depok Sleman, awal Maret (1/3).

Kepala BNNP DIJ Nanang Hadiyanto menjelaskan, berdasarkan hasil penyidikan, pemuda berusia 22 tahun tersebut berperan sebagai pengedar dan pemakai. Terbukti dari adanya bukti 3 transaksi pengiriman. Dalam paket pengiriman tersebut juga terapat biji ganja. Inilah yang kemudian ditanam oleh tersangka di pekarangan kosnya.

“Bijinya (ganja) itu disebar di halaman kos. Saya ke TKP tapi memang belum tumbuh. Bisa dapat benih karena setiap transaksi dapat biji karena sudah sepaket dengan daun dan tangkainya,”katanya  Selasa (16/3).

Nanang menuturkan, metode pengiriman jasa ekspedisi telah menjadi alternatif. Terutama selama masa pandemi Covid-19. Inipula yang dimanfaatkan tersangka Erik dalam bertransaksi.

“Melalui jasa pengiriman ekspedisi, selama covid tetap ada transaksi tapi modus kirim lewat jasa ekspedisi. Ini jadi andalan bahkan tersangka sudah bertransaksi sebanyak 3 kali,” ujarnya.

Nanang menambahkan, tidak adanya pengawasan di tempat kos membuat Erik leluasa bercocok tanam. Setiap biji dalam paket pengiriman dia sebarkan di halaman. Seluruh paket ganja tersebut dia dapatkan dari Medan Sumatera Utara.

“Memang kosnya tidak ada yang mengawasi. Jadi setelah dapat paket, bijinya disebar ke halaman. Sudah transaksi 3 kali dan semua kiriman dari Medan.

BNNP DIJ berhasil mengamankan 105 gram ganja dari tangan tersangka. Bentuknya masih dalam paketan besar. Ganja tersebut dikirim dari Medan dengan jasa ekspedisi,”tambahnya.

Penyidik BNNP DIJ Gilang Satya mengatakan, sosok tersangka adalah aktivis pro ganja. Selain ganja, penyidik juga menyita sejumlah barang bukti lainnya. Termasuk buku-buku yang bertemakan legalisasi ganja.

Terkait paket ganja, Gilang memastikan tergolong jumlah besar. Selain digunakan sendiri, ganja juga diedarkan dalam paket hemat. Selanjutnya paket didistribusikan ke sejumlah wilayah termasuk di Jogjakarta.

“Kalau pasal yang disangkakan Pasal 114 ayat 1 dan atau Pasal 111 Ayat 1 UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman berkisar 5 hingga 12 tahun,” tegasnya.

Sementara itu Erik mengaku iseng dalam bertani ganja. Biji-biji tersebut sengaja dia semai di halaman kosnya. Untuk ganja seberat 105 gram dia beli seharga Rp 950 ribu.

“Awalnya itu sebar saja dapat dari beli paketan. Sudah 3 kali transaksi, kirimnya pakai jasa pengiriman beli lewat online. Kalau bayar lewat transfer ATM,” katanya.

Hukum Kriminal