RADAR JOGJA – Kasus seorang kakek mengaku sebagai polisi demi memperdayai korbannya berawal dari sosial media.

Pelaku PR alias Rudi Istianto berkenalan melalui Facebook pertengahan Desember 2020. Keduanya lalu sepakat bertemu saat Tahun Baru tepatnya 1 Januari 2021 di sebuah penginapan kawasan Kaliurang.

Kanit Reskrim Polsek Mlati Iptu Dwi Noor Cahyanto menjelaskan,  pertemuan demi pertemuan kembali terjadi. Tak hanya di wisma penginapan Kaliurang tapi juga rumah korban. Keduanya juga sempat melakukan hubungan terlarang di rumah tersebut.

“Jadi modusnya mengaku sebagai anggota Serse Polres Kulonprogo dengan pangkat Aiptu. Rupanya pelaku ini telah mempelajari dulu modusnya dengan bertanya kepada rekannya yang katanya juga polisi beneran,” jelasnya ditemui di Mapolsek Mlati, Selasa (9/3).

Pernyataan ini bukan fiksi, terbukti pelaku benar-benar memahami seluk beluk kepolisian. Pangkat yang dipilih juga sesuai dengan usia pelaku, 50 tahun. Pelaku juga cenderung tak berseragam selama beraksi.

Dwi menuturkan pelaku sengaja tak berseragam. Alibinya adalah dia anggota Serse. Sehingga tugasnya untuk selalu menyamar selama berada di masyarakat.

“Tidak pernah pakai baju dinas tapi punya dua baju bertuliskan Police dan Turn Back Crime dan kaos bertuliskan Pelopor. Kalau dilihat dari usia dan fisik memang pantas pangkat Aiptu. Jadi sudah mempelajari pangkatnya apa dari temannya yang polisi,” katanya.

Jauh dari fakta, sosok PR sendiri adalah pekerja serabutan atau pengangguran. Modus ini dia gunakan agar bisa mendapatkan uang dari para korbannya. Selain itu juga bisa melancarkan niat mesumnya.

Hasil penyedikan, pelaku masih memiliki seorang istri. Dari pernikahan tersebut dikaruniai 3 anak. Bahkan saat ini PR sudah memiliki 2 cucu.

“Ngakunya sudah melancarkan aksinya satu tahun ini. Korbannya sudah ada 4, ada yang dari Bantul dan Kota Jogja juga.

Kalau materiil beragam, mulai  dari Rp 2 juta hingga Rp 6 juta. Kalau imateril ya bisa dikatakan rugi njobo njero,” ujarnya.

Uang hasil penipuan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan istri, anak hingga cucu. Selain itu juga untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.

Untuk memuluskan niatnya, pelaku mengaku ada kebutuhan mendesak. Mulai dari membayar tukang bangunan, biaya perbaikan mobil hingga santunan bagi kerabat yang tertimpa musibah. Upaya ini berhasil, bahkan korban terakhir menyerahkan uang sejumlah Rp 5,5 juta.

“Pengalaman pelaku berkomunikasi dengan wanita dan mempunyai kenalan polisi memudahkan aksinya. Mengaku sebagai polisi dengan menjiplak visual dari temannya (polisi),” katanya.(dwi/sky)

Hukum Kriminal