RADAR JOGJA – Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Bantul Aipda Musthafa Kamal mengatakan korban Tumijan tak hanya anak-anak. Berdasarkan penyidikan ada korban usia dewasa, saat ini pihaknya belum bisa mendapatkan keterangan dari korban tersebut.

Modus yang dilakukan kepada korban dewasa ini diduga ada kemiripan.Korban  juga mendapatkan perlakuan cabul dari Tumijan,dari penyidik unit PPA masih menghimpun keterangan untuk mencari korban usia dewasa tersebut.

“Masih dalam  pengembangan, tapi memang ada korban dewasa. Belum kami dapatkan keterangannya. Intinya dari pelaku juga minta peristiwa ini rahasia jangan disampaikan ke orang lain atau orangtua,” jelasnya ditemui di lobi Mapolres Bantul, Jumat (29/1).

Terkait perkembangan kasus, Kamal menuturkan awalnya hanya sebatas rembug warga. Jalan tengah yang ditempuh berupa penyelesaian masalah secara kekeluargaan. Hanya saja ada beberapa tetangga menganggap kasus ini tidaklah wajar,sehingga wajib ditempuh ke jalur hukum.

Orangtua korban, pada awalnya tidak memahami duduk perkara. Hingga akhirnya secara gamblang mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Terlebih dengan adanya cerita dari sang buah hati.

“Jadi saat pertemuan pertama, orangtua korban tidak paham peristiwa yang terjadi seperti apa. Baru setelah ada masyarakat menilai kasus tak wajar jika hanya didiamkan, makanya langsung lapor ke polisi,” katanya.

Musthafa Kamal menambahkan,pelapor pertama dari kasus pencabulan ini adalah orangtua KRN. Berlanjut dengan proses penyelidikan hingga akhirnya muncul nama-nama korban lainnya. Hingga akhirnya terkumpul 3 korban dari Tumijan.

Berdasarkan hasil penyelidikan, ketiga korban saling mengenal. Ini karena ketiganya adalah teman sepermainan. Selain itu jarak usia antar ketiganya juga tidak terlalu jauh.

“Terungkap pula bahwa pelaku ini melakukan aksinya didepan korban lainnya. Jadi ada korban ada yang saling menyaksikan. Kebetulan mereka ini bermainnya bersama,” tambahnya.

Sepinya rumah, membuat pelaku semakin leluasa dalam beraksi. Istri Tumijan kerap bekerja di luar rumah. Termasuk kedua anaknya yang lebih sering beraktivitas di luar rumah.

Dari keterangan korban, aksi dilakukan di rumah tersangka. Bahkan ada satu aksi yang dilakukan di kamar milik anak tersangka. Lalu di pintu depan rumah tersangka. Sementara sisanya di kandang sapi, jalan desa dan kolam ikan.

“Setiap korban mendapatkan perlakukan tak senonoh yang  berulang. Ada yang 4 kali, 3 kali dan 2 kali. Kalau di rumah menunggu sepi, saat istri dan anaknya bekerja,” katanya. (dwi/sky)

Hukum Kriminal